27 Mei 2015

Berpikir Sederhana atau Menyederhanakan Masalah?

Di negeri ini, kita kerap meributkan banyak hal. Sebetulnya, di satu sisi, saya pikir "keributan" (atau sebut saja "perdebatan") yang kerap terjadi di tengah masyarakat menunjukkan bahwa memang orang Indonesia peduli dengan banyak hal. Tentunya hal ini pun tak berarti selalu positif. Kadang-kadang, ada banyak juga sisi negatifnya. Apalagi, semakin hari, saya semakin melihat (dan semakin yakin pula) bahwa masyarakat kita emang belum dewasa dalam menanggapi suatu isu. Ketidakdewasaan masyarakat pun semakin terlihat ketika isu yang berembus sudah "menyentuh" ranah kepercayaan atau agama. Alhasil, debat tak berujungkarena semua pihak merasa paling benar dan paling pahampun hampir selalu menjadi suatu keniscayaan.

Kemarin, lagi-lagi saya menemukan satu konten menarik yang dibagikan beberapa orang teman saya di Facebook. Jika Anda masih gemar ber-Facebook ria, bisa jadi Anda juga telah melihat konten serupa muncul di news feed Anda. Gambar berupa hasil screenshot dari situs forum komunitas maya terbesar di Indonesia, Kaskus, tersebut berisi komentar salah satu Kaskuser (sebutan bagi pengguna Kaskus) terkait umat Islam (yang saya asumsikan di sini adalah umat Islam di Indonesia pada umumnya) yang terkesan "manja". Menurut si Kaskuser ini, tidak seharusnya umat Islam di Indonesia bertengkar mengenai isu penjualan bir yang sempat menjadi perdebatan di ibu kota.


So true. Couldn't have said it better.
Posted by Julio Suryoputra on Saturday, May 23, 2015


Sebagai informasi, pada April lalu, kebijakan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) untuk tidak melarang peredaran minuman beralkohol di pasaran sempat menimbulkan pro dan kontra di tengah masyarakat. Menurut Ahok, tidak ada yang salah dari produksi dan penjualan bir serta minuman beralkohol. Ahok meyakini jika penjualan miras dilarang, akan lebih banyak kasus penyelundupan maupun penjualan secara ilegal.

Namun, yang paling menimbulkan perdebatan adalah ketika Ahok memberika pernyataan bahwa tidak ada yang salah dengan bir. Menurut Ahok, belum pernah ada kasus seseorang tewas karena minum bir. Pernyataan ini pun dianggap banyak pihak sebagai sesuatu yang meresahkan "kepercayaan" masyarakat. Mengutip dari Kompas.com, Ahok mengatakan, "Orang mati kan karena minum oplosan cap topi miring-lah, atau minum spiritus campur air kelapa. Saya kasih tahu, kalau kamu susah kencing, disuruh minum bir, loh."

Perkara Sederhana?

Sekarang, mari kita kembali ke komentar seorang Kaskuser yang disebarkan di Facebook. Bagi saya, ini sesuatu yang menarik dibahas karena di satu sisi ini menunjukkan bahwa di luar sana memang ada orang-orang yang "tidak mau pusing" dengan isu-isu semacam iniselain orang-orang yang cukup "keras" bersuara dan dengan lantang menolak ide yang dilontarkan Ahok. Sementara di sisi lain, kita juga harus berhati-hati dalam berpikir sederhana. Apakah benar kasusnya akan sesederhana yang dikomentari si Kaskuser? Benarkah bahwa seharusnya jika seseorang mengaku beragama Islam, otomatis segala hal yang (jelas) diharamkan oleh agama tidak perlu dilakukan tanpa perlu adanya peraturan dari pemerintah?

Saya tidak akan membahas ini dari segi agama karena selain saya tidak merasa sebagai orang yang kompeten untuk membahas masalah ini dari sisi agama. Perkara agama atau kepercayaan pada akhirnya akan kembali ke pribadi masing-masing. Saya pikir, tidak seharusnya orang-orang (bahkan yang seagama sekalipun) mengklaim bahwa apa yang dia lakukan atau katakan itu adalah sesuatu yang paling benar (menurut agama). Menurut saya, tidak ada kebenaran yang hakiki di dunia ini selain yang bersumber dari Tuhan Yang Maha Kuasa yang itu pun tak semuanya bisa kita pahami dengan akal pikiran kita karena ada keterbatasan dalam mencerna makan "kebenaran" oleh Tuhan. Kebenaran di dunia ini bersifat subjektif, tergantung dari siapa yang mengatakan.

Sekilas saya membaca komentar di screenshot tersebut, saya pun tertawa karena saya anggap apa yang dikatakan si Kaskuser memang benar. Si Kaskuser mengatakan, seorang muslim bisa tidak memakan babi walaupun banyak restoran yang menyediakan daging babi. Lantas, apa bedanya dengan bir? Ketika di sebuah minimarket dipajang bir di sebelah kiri dan teh botol di sebelah kanan, otomatis seorang muslim yang baik akan membeli teh botol karena dia tahu bahwa bir haram. Contoh kasus lainnya, menurut si Kaskuser, di Jalan Hayam Wuruk ada masjid. Sementara, di sampingnya ada panti pijat "plus-plus". Karena pijat "plus-plus" haram, otomatis muslim yang benar (beriman) pergi ke masjid. Sesederhana itu.

Tentunya, sulit untuk tidak setuju pada pernyataan tersebut. Saya pun cukup setuju. Tentunya, kalau memang masyarakat negara ini mengaku (dan bangga) sebagai penduduk dengan pemeluk Islam terbesar di dunia, hal-hal "remeh" seperti bir atau prostitusi tidak perlu menjadi suatu hal yang diperdebatkan hingga terjadi tarik urat sana-sini. Saya mengatakan tidak perlu diperdebatkan karena jelas negara kita bukanlah negara Islam. Negara kita adalah negara demokrasi. Kita tidak menganut hukum Islam di Indonesia. Lain cerita jika hukum yang digunakan di Indonesia adalah hukum Islam, segala bentuk pelanggaran yang jelas-jelas bertentangan dengan agama harus ditindak secara tegas.

Dengan masyarakat yang "ribut-ribut" soal penjualan bir, di satu sisi, ini menunjukkan bahwa memang keimanan muslim di Indonesia masih perlu dipertanyakan. Padahal, jika semua orang Islam di negeri ini benar-benar taat pada agamanya, jangankan bir, prostitusi pun tidak akan laku. Lantas, mengapa pemerintah (terkesan) harus "memfasilitasi" masyarakat pemeluk agama mayoritas agar keimanan mereka tidak "goyah"? Tentunya, ini sesuatu yang lucu. Ibarat kata, yang mau masuk surga siapa, yang memfasilitasi siapa? Sudah jelas, masalah keimanan adalah masalah masing-masing individu. Jika keimanan seseorang kuat, tentu dia tidak akan terpengaruh terhadapa berbagai macam godaan di sekelilingnya.

Menyederhanakan Masalah?

Tadi kita bicara bagaimana seharusnya masalah semacam (wacana) penjualan bir disikapi. Dalam komentar yang diberikan oleh si Kaskuser (yang kemudian di-screenshot dan tersebar secara masif di Facebook) lebih kurang memberi perspektif alternatif bahwa memang seharusnya kita tidak perlu terlalu "tarik urat" dalam menyikapi hal-hal semacam ini. Cukuplah berpikir sederhana dan tidak perlu dibesar-besarkan.

Namun, saya pikir tetap ada hal yang luput dari penyataan tersebut (yang sepertinya terlanjur "diamini" oleh banyak orang). Pendapat tadi baru bicara pada tataran hal praktis, tapi belum bicara soal dampak. Bukankah dari setiap kebijakan selalu menghasilkan dampak? Dampak itu bisa sesuatu yang positif atau negatif.

Pendapat yang disebarkan tadi memang di satu sisi menunjukkan bahwa tidak perlulah kita berpikir "ruwet", berpikirlah secara sederhana saja. Saya setuju bahwa terkadang masalah yang sederhana menjadi tak berujung ketika ditanggapi terlalu rumit. Namun, itu bukan berarti kita menyederhanakan masalah. Berpikir sederhana tentu berbeda dengan menyederhanakan masalah. Ketika kita menyederhanakan suatu masalah, biasanya kita cenderung tidak memikirkan dampak yang mungkin terjadi ketika kita memutuskan langkah yang diambil untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Dalam hal ini, sayabagaimanapun jugatidak setuju jika penjualan bir dibebaskan begitu saja di pasaran tanpa ada regulasi. Ide bahwa mayoritas penduduk ini adalah kaum muslim dan dengan demikian seharusnya sebagai muslim yang baik tidak mengonsumsi hal-hal yang diharamkan agama, tentu tidak bisa diimplementasikan begitu saja. Bagaimanapun juga kita bicara soal manusia. Kita tentu sepakat bahwa kita tidak bisa menyamaratakan tingkat keimanan seluruh pemeluk agama Islam di negeri ini. Logikanya, jika toh penduduk negeri ini benar-benar beriman, pastinya tidak ada lagi segala jenis kejahatan karena agama telah mengatur bagaimana seharusnya manusia berperilaku.

Lalu, bagaimana dengan anak-anak? Saya menaruh perhatian yang cukup besar pada isu anak-anak dan remaja. Saya (masih) percaya bahwa negara ini masih memiliki harapan selama generasi mudanya memang masih bisa diharapkan. Sekarang, jika (dalam kasus ini) bir bisa diakses oleh siapa saja, tentunya akan sangat naif jika kita percaya bahwa anak-anak tidak mungkin bisa mendapatkan minuman tersebut. Tidakkah kita belajar dari bagaimana bebasnya penjualan rokok di negeri ini?

Saya pikir, ketika penjualan bir dibatasi itu adalah sebagian dari upaya preventif, seperti halnya melarang narkoba dan prostitusi, untuk melindungi anak-anak, generasi muda, dan tentunya masyarakat luas. Mari kita membuka mata dan coba untuk jujur pada diri sendiri, berapa banyak anak-anak usia sekolah yang sudah belajar bermabuk-mabukan? Mungkin masih segar dalam ingatan kita soal isu "Bikini Pool Party" yang sempat menjadi perbincangan hangat bulan lalu. Lagi-lagi, saya pikir, sangat naif rasanya jika kita yakin bahwa pesta tersebut (yang pesertanya ditujukan untuk pelajar SMA) tidak menyediakan minuman keras. Tentunya bisa kita bayangkan apa yang terjadi jika penjualan bir (dan minuman keras lainnya) dibebaskan. Dengan regulasi yang jelas-jelas melarang penjualan secara bebas saja anak-anak muda masih bisa mendapatkan minuman ini, apalagi jika secara hukum hal tersebut diperbolehkan.

Jika ada yang berpikir bahwa penjualan bebas bukan berarti tanpa pengawasan, saya pun tak yakin sepenuhnya. Ayolah, kita tinggal di Indonesia. Jika Anda baru 1-2 tahun tinggal di Indonesia, mungkin wajar jika Anda berpikir lugu. Namun, saya yakin kita telah menghabiskan hampir seumur hidup kita hingga hari ini di negara ini dan kita tahu betul bagaimana penegakan hukum di Indonesia.

Akhir cerita, semua ini memang masalah yang kompleks yang tidak bisa dilihat hanya dari satu sisi saja. Sebaiknya, kita memang harus memikirkan dampak yang mungkin terjadi dari setiap masalah yang timbul. Berpikir sederhana itu penting, tapi bukan berarti kita menyederhanakan masalah.

   Add Friend

1 komentar :

APAKAH ANDA MEMBUTUHKAN PINJAMAN JIKA YA BERLAKU SEKARANG.

LUIS CARLOS FINANCE Perusahaan terbatas pada modal saham. Kami menawarkan pinjaman dan jasa keuangan dari segala jenis. Pinjaman kami bervariasi dari bisnis hingga pinjaman pribadi atau kondisi jangka panjang atau jangka pendek dengan tingkat suku bunga yang baik (2%). Proses pinjaman kami sangat cepat dan terpercaya dengan jaminan. Untuk informasi lebih lanjut tentang layanan kami, kunjungi kami di email kami; (luiscarlosfinance@outlook.com) beri tahu kami jumlah pinjaman yang Anda butuhkan dan inginkan durasi pinjaman. Kami berharap bisa mendengar kabar dari Anda. Anda bisa mengirim pesan ke alamat email di bawah ini. Luiscarlosfinance@outlook.com

CATATAN: semua email harus diteruskan ke: luiscarlosfinance@outlook.com

Posting Komentar

Silakan tulis opini atau komentarmu.