25 Mei 2015

Ketika Terlalu Banyak Kebencian (dan Kebodohan) di Negeri Ini

Akhir-akhir ini, masalah pengungsi Rohingya menjadi salah satu topik yang sangat hangat menjadi bahan "diskusi" semua orang. Mulai dari yangsaya yakintidak tahu apa itu sebenarnya Rohingya (atau di mana sebenarnya Myanmar itu berada di dalam peta) dan apa yang sebenarnya menimpa komunitas masyarakat tersebut sampai yang benar-benar (terlihat) bak pakar kemanusiaan, kerap muncul menghiasi halaman media sosial kita.

Ada beberapa hal yang saya pikir bisa kita simpulkan dari kejadian ini. Pertama, masyarakat Indonesia memang gemar berkomentar. Apa pun latar belakang si pengomentar, apa pun isunya yang berembus, yang penting berkomentarini masalah kebebasan berekspresi, kebebasan berpendapat, bla, bla, bla. Sementara itu, masalah "mempelajari" isu atau minimal, kepo sedikit saja soal permasalahan itu, menjadi sesuatu yang dinomorsekiankan.

Hal kedua yang (mungkin) bisa kita simpulkan adalah bahwa masyarakat kita sebetulnya memang sangat peduli pada isu-isu kemanusiaan. Namun, kepedulian itu kini (yang saya lihat) hanya sampai pada tingkat mengomentari saja. Mungkin, bagi sebagian orang hal tersebut dirasa lebih "masuk akal" daripada harus repot-repot terjun langsung untuk membantu (dalam hal ini adalah para pengungsi Rohingya di Aceh). Ini bisa terjadi karena (lagi-lagi, mungkin) sebagian besar orang menganggap bahwa semua itu seharusnya menjadi tanggung jawab pemerintah. Ketika pemerintah terlihat kurang tanggap, masyarakat langsung menuduh pemerintah tidak peka, tidak peduli, dan segala hal lainnya yang padahal (kalau dipikir-pikir) jika memang masyarakat merasa bahwa ada masyarakat lain yang memerlukan bantuan, kenapa tidak langsung terjun saja? Atau minimal melakukan satu aksi nyata dan juga menggalang dukungan untuk membantu masyarakat Rohingya lewat media sosial.

Sembari menulis ini, saya sebenarnya juga berusaha mengingat-ingat apakah ada konten-konten yang "adem" mengenai bantuan yang diberikan masyarakat kita terhadap para pengungsi Rohingya di Aceh sana? Entah saya yang salah berteman di Facebook, tapi seingat saya, yang saya lihat selama setidaknya seminggu terakhir ini adalah: makian terhadap pemerintah, kehadiran Ibu Negara Turki ke Aceh, expose profil masyarakat Buddha "pembantai" masyarakat Rohingya, dan foto-foto keji lainnya yang banyak juga sebetulnya tak layak untuk dipublikasikan.

Ingin rasanya saya berteriak balik (kepada mereka yang membagikan konten-konten tidak jelas, penuh kebencian, dan yang tak jelas asal-usulnya itu) bahwa apa yang mereka lakukan sama sekali tidak membantu. Ribut-ribut di media sosial adalah (salah satu) hal paling kekanak-kanakan yang sepertinya kini menjadi salah satu tren sosial. Orang-orang bangga ketika sudah menyuarakan "aspirasinya" di media sosial. Orang-orang bangga ketika sudah ikut menyebarkan berita yang kadang keakuratannya pun dipertanyakan. Orang-orang bangga ketika sudah "berperan" dalam penyebaran artikel-artikel terkait isu yang beredar walaupun hanya sekedar membaca judulnya saja. Itulah cerminan masyarakat kita kini.

Ibu Negara Turki Datang, di Mana Ibu Negara Kita?

Belum lama ini, soal kedatangan Ibu Negara Turki ke Aceh menjadi perbincangan hangat. Berita itu tersebar dan tentu saja berdampak pada: mengagungkan Turki (padahal kalau isunya berupa isu sekulerisme, pasti orang-orang di sini juga akan "menghujat" Turki), dan di sisi lain "mempertanyakan" di mana pemerintah kita?

IBU NEGARA TURKEY DAH SAMPAI MYANMAR MENEMUI PARA PENGUNGSI. MANA IBU NEGARA KITA?
Posted by Abu Mufti on Thursday, May 21, 2015


Sekarang, inilah yang terjadi ketika negeri ini sudah terlalu dikuasai kebencian. Parahnya lagi, selain penuh kebencian, negeri ini sudah dilanda kebodohan akutsetelah menulis ini mungkin saya tidak bisa jadi presiden karena telah "menuduh" negeri ini bodoh.

Ayolah, mari sejenak kita tahan emosi. Mungkinkah pemerintah kita sebodoh itu? Saya bukan orang yang propemerintah, tapi saya berusaha untuk seobjektif mungkin melihat apakah isu ini benar atau tidak.

Sejak awal saya mengetahui berita ini, saya sudah malas mengomentarinya. Saya pikir, saya cukup update dalam hal mengikuti perkembangan berita di Tanah Air, baik dari media cetak, siar, ataupun online. Selama itu pula, saya tidak ada membaca, mendengar, atau menonton bahwa ada kunjungan pejabat Turki ke Indonesia.

Ternyata, foto istri Presiden Erdogan yang disebarkan di media sosial tersebut adalah foto lama saat kunjungannya ke Myanmar pada 2012 silam. Saat itu pun, Erdogan bahkan masih menjabat sebagai Perdana Menteri Turki, belum menjadi presiden. Silakan baca artikel dari Al Arabiya yang diterbitkan pada 13 Agustus 2012 lalu mengenai kunjungan Emine Erdogan ke Myanmar. Dengan begitu mungkin kita bisa lebih yakin bahwa kabar yang tersebar di media sosial itu seratus persen palsu.

Coba kita pikirkan secara cerdas. Apa mungkin seorang istri presiden dari Turki datang ke Indonesia tidak lewat Jakarta? Kedua, apa mungkin, kedatangan sang ibu negara ini bisa segitu "kecolongannya" oleh rekan-rekan media hingga tidak diliput di media-media nasional? Itu kan hal yang mustahil dan terlalu bodoh rasanya (jika sampai terjadi). Stop mengatakan di segala isu bahwa semua itu konspirasi Yahudi, Zionisme, pemerintah kita antek Yahudi, antek AS, antek apa pun itu. Itu bodoh. Stop berkomentar tidak cerdas dan menjatuhkan harkat dan martabat negeri sendiri.

Belajar dari Sejarah

Saya tahu, tidak semua orang suka sejarah. Namun, percayalah bahwa sejarah adalah salah satu guru yang sangat baik jika kita ingin negara ini maju.
 
Apa salah satu taktik penjajah untuk memecah belah bangsa ini? Mengapa negara kita begitu lama terbelenggu oleh penjajahan kolonial? Jawabannya mudah saja. Karena memang dari dulu, karakter maysarakat kita mudah diprovokasi. Karena itu, Belanda dulu menerapkan taktik politik "Devide et Impera" atau yang bisa disebut sebagai politik adu domba. Ternyata, dari dulu, kita memang "senang" dan mudah diadu domba. Kita mudah diprovokasi.

Tidakkah kita sadar bahwa dengan mudahnya kita diprovokasi maka otomatis kita akan lebih mudah terpecah-belah menjadi golongan-golongan yang lebih kecil? Jadi, jangan heran, apalagi menyalahkan pemerintah, atau bawa-bawa "bumbu" isu agama, kalau kenyataannya seperti ini yang terjadi. Pada akhirnya, yang menghancurkan dan memecah belah negeri ini adalah masyarakatnya sendiri, bukan pemerintah. Ya, kita tahu, korupsi itu musuh besar. Kita tahu, ada mafia migas, dan sebagainya. Kita tahu, ada praktik-praktik kejahatan kerah putih lainnya. Kita tahu itu semua berakibat buruk pada negara kita, tapi itu semua menjadi lebih buruk ketika masyarakat kita justru asik "berkomentar" dan mencaci maki, bukannya justru melakukan aksi nyata atau bahkan memberikan solusi.

Kita tidak mau dan malas belajar dari sejarah. Masyarakat kita sudah terkena penyakit "merasa paling benar" dan "paling tahu", ditambah lagi, penyakit "malas membaca". Semua itu sudah menyatu bak penyakit kronis yang sulit disembuhkan. Tak peduli seberapa banyak orang yang banting tulang berjuang untuk membuat Indonesia yang lebih baik, tapi selama masyarakat tidak mau berubah, semua itu akan sia-sia.

Pada dasarnya, saya termasuk orang yang percaya bahwa tidak ada yang sia-sia selama kita melakukan segala sesuatu dengan tulus dan ikhlas. Namun, dalam hal ini, akan menjadi sia-sia segala perjuangan yang dilakukan untuk memperbaiki negeri ini selama karakter orang-orang Indonesia masih "kampungan". Maaf, saya harus mengatakan hal itu, tapi memang begitulah yang saya rasakan.

Adakah yang masih bisa kita banggakan sebagai orang Indonesia? Adakah tersisa (sedikit saja) kebanggan sebagai anak negeri?

Mari kita mulai cerdas dalam memilah-milih konten yang akan kita sebarkan di media sosial. Saya mungkin bisa paham ada semacam "dorongan" tersendiri untuk berperan aktif dalam menyebarkan isu-isu penting, tapi sekali lagi, sebaiknya kita luangkan sedikit waktu untuk memahami isu itu terlebih dahulu.

Tidak perlu kita banyak komentar. Untuk apa banyak komentar, tapi tak ada aksi? Komentar kita di media sosial toh tak meringankan beban para pengungsi. Tak perlu mencaci pemerintah. Apa kita yakin jika di posisi pemerintah, kita bisa lebih baik?

Sudah terlalu banyak kebencian di negeri ini. Janganlah kita tambah dengan kebodohan pula. Mau jadi apa negeri kita (yang katanya kita cintai ini) nanti?

Artikel ini juga dipublikasikan di Selasar.com.

   Add Friend

1 komentar :

APAKAH ANDA MEMBUTUHKAN PINJAMAN JIKA YA BERLAKU SEKARANG.

LUIS CARLOS FINANCE Perusahaan terbatas pada modal saham. Kami menawarkan pinjaman dan jasa keuangan dari segala jenis. Pinjaman kami bervariasi dari bisnis hingga pinjaman pribadi atau kondisi jangka panjang atau jangka pendek dengan tingkat suku bunga yang baik (2%). Proses pinjaman kami sangat cepat dan terpercaya dengan jaminan. Untuk informasi lebih lanjut tentang layanan kami, kunjungi kami di email kami; (luiscarlosfinance@outlook.com) beri tahu kami jumlah pinjaman yang Anda butuhkan dan inginkan durasi pinjaman. Kami berharap bisa mendengar kabar dari Anda. Anda bisa mengirim pesan ke alamat email di bawah ini. Luiscarlosfinance@outlook.com

CATATAN: semua email harus diteruskan ke: luiscarlosfinance@outlook.com

Posting Komentar

Silakan tulis opini atau komentarmu.