Welcome to My World!

Welcome visitors! Please enjoy my site and I hope you can get many useful information. If you wish, you may contact me through Facebook, Twitter, or any other social media that I linked on the menu bar above. Thank you.

Die Poskarten

This is my another blog: Die Poskarten. This blog will show you all my postcards collection. If you want to swap a postcard, please don't hesitate to contact me from the menu bar above.

Bonjour à Tous !

"Bonjour à Tous !"is my Tumblr site. Please take a look on it and maybe you can find some funny contents that you will love. You can also follow me on Tumblr to get my updates on the site.

Please Do Not Copy

You are welcome to link to my site and use my resources in your classroom, but please respect my hardwork and do not copy my page or files and add them to your website. Thank you.

Russia Beyond the Headlines in Bahasa Indonesia

Russia Beyond the Headlines, your guide to Russia, a diverse and complex country cannot be understood in the context of stereotypes. Now available in Bahasa Indonesia!

21 Oktober 2015

Ayo Pergi ke Rusia!

Katedral St. Basil, Lapangan Merah, Moskow (2014). Foto: penulis
Apakah Anda sedang merencanakan liburan akhir tahun Anda? Atau mungkin Anda sedang butuh inspirasi untuk destinasi wisata yang harus masuk dalam daftar yang harus dikunjungi pada 2016? Mari kita cek peta atau atlas dunia. Ada negara yang sangat besar di utara, negara yang bahkan untuk bisa mencapai dari ujung barat ke timurnya memerlukan waktu satu minggu perjalanan dengan kereta api. Ya, mari ke Rusia!

Tunggu dulu, Rusia? Apakah tidak "berbahaya" pergi ke Rusia? Rusia sama sekali tidak berbahaya untuk dikunjungi, bahkan untuk wisatawan Indonesia. Setidaknya, saya tidak pernah melihat beruang berkeliaran di jalanan (atau mungkin, belum). Namun, pada dasarnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan di Rusia selama Anda mengetahui berbagai trik untuk mempermudah perjalanan dan petualangan di Negeri Beruang Merah tersebut.

Bulan September lalu, saya kembali menjejakkan kaki saya di Rusia. Itu adalah kedua kalinya saya ke Rusia. Kali ini, saya akan berbagai trik tentang hal-hal apa saja yang harus Anda persiapkan, khususnya bagi wisatawan Indonesia, yang tertantang untuk "menguji nyali" berpetualang ke Rusia. Semuanya mudah dan sangat mungkin dilakukan!

Persiapan yang matang adalah hal terbaik yang bisa dan harus Anda lakukan sebelum ke Rusia. Ada beberapa hal penting yang harus Anda perhatikan, mulai dari anggaran perjalanan, visa, waktu berkunjungan (soal musim, karena ini akan berpengaruh pada harga tiket pesawat dan lebih dari itu: suhu udara di Rusia), rencana wisata selama di Rusia, dan tentunya akomodasi.

1. Visa

Visa adalah salah satu hal yang paling penting untuk disiapkan jika Anda ingin ke Rusia. Saat ini, Rusia masih memberlakukan wajib visa bagi WNI yang berkunjung ke Rusia (kecuali untuk diplomat). Memang, pemerintah kita saat ini masih terus bernegosiasi dengan Rusia untuk membebaskan visa bagi WNI sebagai bentuk timbal balik atas pembebasan visa bagi warga Rusia yang berkunjung ke Indonesia. Namun, selama belum ada "kabar baik" tersebut, visa adalah suatu kewajiban.

Давай пойдем в России, завтра!

A photo posted by Fauzan Al-Rasyid (@fauzanalrasyid) on


Bagaimana mengurus visa Rusia? Mengurus visa Rusia, berdasarkan pengalaman saya, cukup mudah. Anda bisa melihat persyaratan pengajuan visa di situs Kedutaan Besar Rusia. Setelah itu, Anda bisa mengisi formulir secara online. Pengisian formulir cukup mudah, bahkan Anda bisa menyimpan formulir Anda (dan mengeditnya lagi nanti) jika ada kelengkapan yang harus dimasukkan, tapi Anda belum memilikinya.

Harap diperhatikan, meskipun pengisian formulir dilakuan secara online, Anda tetap harus pergi ke konsulat di Kedutaan Besar untuk mengajukan formulir yang telah dicetak beserta dokumen-dokumen pelengkap yang dibutuhkan.

2. Anggaran Perjalanan

Mungkin Anda bertanya-tanya berapa biaya yang dibutuhkan untuk "bertahan hidup" di Rusia. Saya bisa katakan, bahwa salah satu alasan mengapa saya suka pergi ke Rusia karena biaya hidup di Rusia (untuk turis) terbilang sangat terjangkau. Rusia menggunakan mata uang rubel. Sebagai gambaran, saat ini satu dolar AS bernilai sekitar 62 rubel, sedangkan satu rubel bernilai sekitar 215 rupiah.

Rubel. #touchRussia #Russia

A photo posted by Fauzan Al-Rasyid (@fauzanalrasyid) on


Jadi, katakanlah Anda berniat pergi ke Moskow, Rusia, selama seminggu. Anda membawa uang (di luar biaya tiket pesawat) sebesar 500 dolar AS. Jika memakai kurs di atas, artinya Anda akan mendapatkan sekitar 31 ribu rubel, dan itu adalah jumlah yang banyak untuk Anda habiskan dalam satu minggu di kota Moskow. Jika Anda pergi ke kota lain di luar Moskow, seperti di Sankt Peterburg, jumlah itu menjadi jauh lebih besar untuk dihabiskan dalam waktu satu minggu. Artinya, sangat mungkin untuk menekan biaya perjalanan Anda mulai dari 300 sampai 500 dolar AS.

Sepetember lalu, saya berada di Krimea selama dua minggu. Di sana, saya menghabiskan sekitar 400 dolar AS (di luar tiket pesawat dari Moskow ke Krimea). Apa yang saya dapatkan dengan 400 dolar AS selama dua minggu di Krimea? Hostel murah, tapi tetap nyaman. Saya tetap makan tiga kali sehari. Saya bisa pergi ke berbagai kota di Krimea dengan bus atau terkadang taksi. Saya pun bisa membeli banyak suvenir. Artinya, saya pikir biaya hidup di Rusia cukup terjangkau. Namun, bila Anda seorang backpacker sejati, tentunya biaya tersebut bisa lebih ditekan hingga seminimum mungkin.

3. Tiket Pesawat

Untuk hal yang satu ini, memang, tiket dari Jakarta ke Moskow terbilang cukup mahal. Harga tiket untuk sekali jalan berkisar antara 450 sampai 550 dolar AS. Namun, ini tentunya bervariasi tergantung dari musim dan maskapai yang dipilih. Jika Anda berencana bepergian pada musim panas, Anda harus siap merogoh kocek lebih untuk tiket pesawat karena itu adalah musim ketika hampir semua orang berlibur. Selain itu, jika Anda memilih maskapai dengan jumlah transit yang sedikit dan lama waktu transit yang tidak lama, tentunya hal itu juga berpengaruh pada harga tiket.

Ready to take off in less than 30 minutes.

A photo posted by Fauzan Al-Rasyid (@fauzanalrasyid) on


Berapa lama perjalanan dari Jakarta ke Moskow? Lama perjalanan bergantung pada lama transit karena hingga kini belum ada penerbangan langsung dari Jakarta ke Moskow. Namun, sebagai gambaran, pada 2014 lalu, saya mengambil rute perjalanan Jakarta-Kuala Lumpur-Frankfurt-Moskow dengan lama perjalanan hampir 23 jam. Sebenarnya, lama waktu di atas pesawat melalui rute tersebut hanya sekitar 18 jam, tapi ditambah dengan lamanya waktu transit, waktu yang ditempuh menjadi 23 jam. September lalu, saya mengambil rute perjalanan Jakarta-Hong Kong-Moskow dengan lama perjalanan hampir sekitar 19 jam. Lama waktu yang ditempuh di atas pesawat hanya 14 jam, ditambah transit di Hong Kong sekitar 5 jam.

4. Akomodasi

Kemudahan Anda selama di Rusia sedikit banyak juga akan ditentukan dari di mana Anda tinggal. Selama seminggu di Moskow, saya menginap di rumah teman saya. Jadi, saya bisa katakan semuanya "aman". Namun, selama dua minggu di Krimea, saya berpindah-pindah dari satu hostel ke hostel lainnya. Saya memesan hostel dari jauh hari sebelum ke Rusia di Booking.com. Anda bisa mencari-cari penginapan, baik hotel maupun hostel, yang sesuai dengan kebutuhan dan juga pastinya pas dengan "kantong" Anda.

20:44 at Lyubino.

A photo posted by Fauzan Al-Rasyid (@fauzanalrasyid) on


Namun, ada yang perlu diperhatikan ketika memesan penginapan di Booking.com, Anda mungkin akan tergiur dengan beberapa penawaran yang sangat murah. Saya pun begitu. Saya melihat penawaran yang sangat murah, saya lihat foto-foto interiornya menarik, saya pun langsung pesan. Saat tiba di lokasi, ternyata penginapan tersebut cukup jauh dari lokasi-lokasi yang ingin saya kunjungi. Otomatis, sangat logis jika pihak penyedia penginapan menawarkan harga yang murah. Namun, jika jarak tidak menjadi masalah bagi Anda, berbagai tipe penginapan semacam ini tentunya bisa "menyelamatkan" kocek Anda selama di Rusia.

Biar bagaimanapun, saya merekomendasikan agar Anda terlebih dulu mengecek peta lokasi wisata yang akan Anda kunjungi. Barulah setelah itu, Anda cari penginapan yang kira-kira dekat dengan lokasi tersebut. "Dekat" di sini tak harus berjarak 100 sampai 500 meter dari lokasi wisata. Di Rusia, berjalan kaki sangatlah menyenangkan. Berjalan kaki sejauh satu kilometer dari lokasi penginapan ke tempat wisata masih terbilang dekat. Atau katakanlah Anda berada di Moskow, metro (kereta bawah tanah) akan menjadi salah satu "penyelamat" hidup Anda karena transportasi publik tersebut benar-benar akan memudahkan mobilisasi Anda dari satu tempat ke tempat lain di kota Moskow.

5. Bahasa dan Aksara

Benarkah orang Rusia tidak berbahasa Inggris? Ini tentunya tidak benar. Namun demikian, saya bisa katakan bahwa mereka memang lebih senang berbahasa Rusia. Saya pikir, situasi ini lebih kurang sama dengan di Indonesia. Masyarakat setempat tentu lebih senang berbicara dengan bahasanya sendiri. Bagi wisatawan Indonesia, masalah bahasa mungkin bisa menjadi kendala. Namun, hal ini bisa diatasi dengan beberapa trik.

Welcome to St. Petersburg! Good morning, a bit rainy, 5 degrees Celcius. #touchRussia #Russia #traveling

A photo posted by Fauzan Al-Rasyid (@fauzanalrasyid) on


Jika Anda ingin bertanya sesuatu di jalan, usahakanlah cari orang-orang muda. Mereka biasanya bisa berbahasa Inggris. Jangan putus asa jika mereka tak mengacuhkan Anda, pada dasarnya, itu bukan berarti mereka tak mau membantu, melainkan karena mereka kurang percaya diri jika langsung ditanya dengan bahasa Inggris.

Anda bisa mulai bertanya dengan mengatakan, "Извините. Вы говорите по-английски?" (Izvinite. Vy govoritye po-angliyski? Permisi. Apakah Anda bicara bahasa Inggris?). Jika ya, mereka biasanya akan langsung menanggapi Anda. Jika tidak, biasanya mereka hanya akan menggelengkan kepala seraya berkata, "Нет" (Nyet. Tidak).

Sementara untuk tulisan, huruf Kiril "menguasai" hampir di seluruh pelosok Rusia. Tak semua tempat publik memiliki transliterasi dalam huruf Latin. Hal ini tentunya akan sangat merepotkan bagi wisatawan yang tidak punya pengetahuan mengenai bahasa Rusia. Untuk hal ini, saya merekomendasikan bagi Anda yang berniat pergi ke Rusia untuk setidaknya belajar aksara Kiril. Tidak perlu ikut kursus, yang penting Anda tahu apa yang dibaca. Dengan bisa membaca huruf Kiril (terlepas dari pengucapannya benar atau salah) akan sangat membantu Anda selama di Rusia. Ada banyak situs yang bisa membantu Anda untuk belajar huruf Kiril (dan sekaligus bahasa Rusia, tentunya), seperti Russian For Everyone.

6. Berteman dengan Orang Rusia

Poin yang terakhir ini bersifat opsional. Jika ini pertama kalinya Anda akan menginjakkan kaki di Rusia, dan Anda seorang diri, saya pikir akan "lebih aman" jika Anda punya kenalan di kota yang hendak Anda kunjungi. Namun, jika Anda seorang yang berjiwa petualang dan mau merasakan sensasi di Rusia tanpa bantuan siapa pun, tentunya hal itu akan menjadi kenangan dan sekaligus pengalaman yang tak terlupakan.

Давай « selfie » #SaintPetersburg #selfie

A photo posted by Fauzan Al-Rasyid (@fauzanalrasyid) on


Bagaimana agar kita bisa memiliki teman dengan orang Rusia? Sebelum akhirnya saya bekerja dengan orang-orang Rusia, saya sudah lebih dulu memiliki beberapa teman baik di Rusia. Saya bertemu mereka secara online melalui situs Interpals. Jika situs itu terdengar asing bagi Anda, situs tersebut pada dasarnya ditujukan untuk pertukaran budaya dan bahasa. Jadi, orang-orang yang bergabung di situs tersebut (mayoritas) ingin menambah pengetahuan atau informasi mengenai budaya atau negara-negara yang ingin mereka ketahui. Namun demikian, mencari teman baik tentunya tidak mudah. Jika Anda ingin punya teman orang Rusia yang bisa membantu Anda selama di negara tersebut, Anda harus mulai dari jauh hari sebelum kunjungan Anda ke Rusia.

Penulis adalah web editor di Russia Beyond the Headlines Indonesia (RBTH Indonesia). Baca artikel lainnya mengenai hubungan Rusia dan Indonesia. >>>

   Add Friend

20 Oktober 2015

Bagaimana Seharusnya Muslim Indonesia Menanggapi Isu Internasional?

Setidaknya hampir selama tiga minggu terakhir, isu serangan militer Rusia (terhadap ISIS) di Suriah menjadi salah satu isu internasional yang kerap menjadi perbincangan di berbagai media, baik di dalam maupun luar negeri. Segala macam reaksi pro dan kontra (atas tindakan Rusia) bermunculan, dan tentu saja, tak terkecuali dari masyarakat Indonesia.

Namun, berdasarkan pengamatan pribadi, saya tak melihat reaksi masyarakat Indonesia yang begitu kontra pada serangan udara Rusia di Suriah ini. Reaksi masyarakat kali ini jelas sangat berbeda dari reaksi yang biasa ditunjukkan saat terjadinya, misalnya, serangan militer Israel kepada Palestina. Memang, pada dasarnya, konflik yang terjadi di Suriah, atau apa yang dilakukan Rusia di Suriah, jelas sangat berbeda dengan apa yang terjadi antara Palestina dan Israel, atau apa yang terjadi pada saat Perang Irak sepuluh tahun silam.

Tentunya, tetap ada demonstrasi atau protes dari kalangan tertentu kepada Rusia. Orang-orang ini sempat berdemonstrasi di depan Kedutaan Besar Rusia di Jakarta. Mereka (seperti biasa) membakar bendera negara yang diprotes dan memasang poster antinegara yang mereka "kutuk" di depan kedutaannya. Namun, saya pikir ini hanya protes "kecil-kecilan" jika dibandingkan dengan aksi protes yang biasa dilakukan saat bergejolaknya situasi di bumi Palestina.

Protes anti Rusia menolak operasi militer di Suriah Ratusan orang melakukan protes terhadap operasi militer Rusia di...
Posted by BBC Indonesia on Friday, October 16, 2015

Sebenarnya apa yang terjadi di Suriah? Kepada siapakah seharusnya kita berpihak? Sejujurnya, ini adalah masalah yang sangat (dan terlanjur) kompleks. Saya pikir, kita (orang Indonesia) harus lebih cerdas dalam melihat isu, apalagi isu-isu internasional. Kita tak bisa bereaksi hanya atas dasar persamaan agama, misalnya. Saya lihat, memang itulah yang kerap terjadi. Hanya karena Rasul berwasiat bahwa seorang muslim itu adalah saudara bagi muslim lainnya (dan karena itu kita harus saling membantu jika ada muslim lainnya yang mendapatkan kesulitan, apalagi dizalimi oleh orang-orang "kafir"), bukan berarti hal tersebut harus ditafsirkan secara harfiah hingga kita tak melihat di pihak mana kebenaran itu sebenarnya berpijak. Kita tidak boleh hanya mengedepankan perasaan dan emosi semata. Setidaknya, sebelum bereaksi (apalagi menuduh salah satu pihak yang dianggap penyebab pertikaian), sebaiknya kita benar-benar paham atas situasi yang sebenarnya terjadi. Bukankah muslim itu juga manusia? Dan manusia bisa dan pasti berbuat salah. Artinya, hanya karena ada muslim atau komunitas muslim berperang, kita tidak bisa serta-merta mendukung gerakan "perjuangan" (komunitas) muslim tersebut dan dengan mudahnya "mengutuk" pihak lainnya, tanpa benar-benar paham apa yang sebenernya terjadi. Di sinilah, saya pikir, kita sebagai makhluk yang berakal, harus tetap cerdas dalam melihat suatu isu.

Belajar dari Konflik Mesir

Pada 2013 lalu, terjadi protes besar-besaran di Mesir. Ratusan ribu pengunjuk rasa berdemonstrasi menentang Presiden Mesir Muhammad Mursi. Demonstrasi besar ini telah menyebabkan bentrokan antara anggota dan pendukung Freedom and Justice Party (Partai Kebebasan dan Keadilan) yang disokong Ikhwanul Muslimin dan pengunjuk rasa anti-Mursi, dan pada akhirnya pun melibatkan angkatan bersenjata Mesir (sehingga terkesan saat itu terjadi kudeta terhadap pemerintahan Mursi). Singkat cerita, pada akhirnya Mursi turun dari jabatannya. Namun, peristiwa ini tentunya mendapatkan reaksi keras dari Indonesia.

Saya ingat, posisi atau reaksi sebagian besar umat Islam di Indonesia yang berunjuk rasa di berbagai daerah saat itu mengutuk tindakan kudeta angkatan bersenjata Mesir terhadap Mursi. Bahkan, saya ingat, banyak sekali konten-konten yang dibagikan di dunia maya terkait prestasi Presiden Mursi dan kenapa orang sebaik beliau diturunkan? Tentunya, saya tidak punya bukti valid, tapi saya berasumsi fenomena semacam ini, menyebarkan daftar prestasi dan kebaikan pemimpin negara lain, hanya terjadi di Indonesia.

Mengapa saat itu, mayoritas umat Islam di Indonesia (atau baiklah, sebut saja, dari golongan muslim tertentu) sangat menujukkan keberpihakan mereka pada Mursi. Padahal... jelas, peristiwa itu tak terjadi di Indonesia, Mursi bukanlah pemimpin Indonesia, dan (menurut pemikiran sederhana saya) apa yang terjadi dengan Mursi atau kebijakan sang presiden di Mesir tidak akan berpengaruh terhadap meningkatnya kesejahteraan rakyat Indonesia, misalnya. Lalu, kenapa ada sebagian besar golongan yang begitu "marah" saat meletusnya demonstrasi besar-besaran di Mesir hingga akhirnya Mursi harus diturunkan dan bahkan dipenjara?

Lagi-lagi, saya berasumsi, bahwa ini memang ada kaitannya dengan gerakan Ikhwanul Muslimin (atau biasa disebut "Ikhwan"). Gerakan Ikhwan memang lahir di Mesir dan berpusat di Mesir. Namun demikian, gerakan dan pemikiran Ikhwan yang mengajak dan menuntut ditegakkannya syariat Islam, termasuk dalam kegiatan politik, berhasil menyebar ke seluruh dunia, tak terkecuali Indonesia. Ikhwanul Muslimin cukup banyak memberikan inspirasi pada organisasi-organisasi di Indonesia, tapi tidak jelas mana yang benar-benar berhubungan "secara resmi" dengan Ikhwan di Mesir. Namun, bisa dikatakan, salah satu organisasi di Indonesia yang terinspirasi dari Ikhwanul Muslimin adalah Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Dari asumsi itu, saat pun saya pikir menjadi logis jika pengikut partai atau organisasi di Indonesia yang (dikabarkan) terinspirasi (atau bahkan mungkin berafiliasi) dengan Ikhwan di Mesir, secara terbuka mendukung Mursi dan memprotes "kudeta" yang dilakukan angkatan bersenjata Mesir. Namun, karena saya tidak mau menjadi golongan orang-orang yang mengedepankan ilmu "cocoklogi" atau ilmu "konspirasi", saya coba buat riset sederhana dengan cara bertanya langsung pada masyarakat Mesir. Bagi saya, siapalah kita hingga bisa menentukan siapa yang benar dan salah, sementara kita bukan warga negara itu dan kita tidak merasakan dampak dari kebijakan yang dibuat si pemimpin tersebut secara langsung?

Sementara, sebagai orang media, saya pun bisa mengatakan bahwa saya tak bisa percaya sepenuhnya pada media. Media, baik di dalam maupun luar negeri, pasti punya agenda tersendiri dalam memberitakan dan "membingkai" isu yang mereka anggap penting. Oleh karena itu, saya pikir, kenapa tidak saya tanyakan langsung kepada warga Mesir? Dengan begitu, saya bisa mendapatkan perspektif alternatif langsung dari pihak yang benar-benar merasakan dan mengalami peristiwa di sana.

Pada mulanya, saya bertanya pada seorang teman saya, dia orang Mesir. Pada saat meletusnya demonstrasi, kebetulan ia sedang berada di Jakarta, dan saya pun melakukan sedikit wawancara terkait opininya terhadap peristiwa yang terjadi di Mesir saat itu. Jawabannya ternyata bertolak belakang dengan apa yang "dibesar-besarkan" di Indonesia saat itu. Ya, dia tidak mendukung Mursi dan ia menjelaskan mengapa orang-orang melakukan protes terhadap Mursi, dan apa yang dilakukan angkatan bersenjata Mesir saat itu bukanlah kudeta.

Saya tentunya mendapat perspektif baru dari hal tersebut. Saya pun memublikasikan hasil "sharing" bersama teman Mesir saya di blog dan juga Twitter. Hasilnya? Cukup banyak komentar negatif. Ada pula yang bilang bahwa apa yang saya lakukan tentunya tidak mewakili pendapat rakyat Mesir pada umumnya. Dalam hal ini, saya pikir itu memang benar. Karena itu, saya pun tidak menyerah dan saya benar-benar mencari orang Mesir secara acak di dunia maya untuk saya tanyakan pendapatnya terkait peristiwa yang terjadi di negara mereka saat itu.

Keesokan paginya, saya berdiskusi dengan 11 orang Mesir usia 20 - 40 tahun. Saya tidak kenal mereka sebelumnya dan saya pilih secara acak dari situs Interpals. Hal ini saya lakukan semata-mata untuk memberikan perspektif alternatif. Tentunya, saya tidak mengaku sebagai orang yang tahu atau paham betul soal ini, sama sekali tidak, hanya saja, saya mencoba untuk memberikan pandangan lain dengan berusaha tanya dengan mereka yang tinggal di daerah konflik dan (mudah-mudahan) lebih tahu kejadian sebenarnya.

Hasilnya? Lebih kurang sama dan saya publikasikan kembali di blog. Mayoritas orang-orang yang saya tanyai juga tidak mendukung Mursi dan mereka menjelaskan mengapa mereka melakukan aksi protes. Pada akhirnya, tetap ada yang mengatakan bahwa apa yang saya dapat ini tetap belum representatif, tidak mewakili rakyat Mesir keseluruhan. Saya toh tetap tidak pernah mengklaim bahwa apa yang saya dapatkan 100% mencerminkan keadaan sebenarnya, tidak sama sekali. Saya, cuma mau bilang, yok orang Indonesia, saudara-saudara sebangsa setanah air, kita harus lebih cerdas. Dalam hal seperti ini, sebenarnya bukan "ranah" kita untuk menghakimi siapa yang (paling) benar dan (paling) salah. Paling mentok, kita hanya bisa menilai. But please, do not judge. Kita bahkan tidak hidup dan tinggal di sana.

Harus Apa?

Lalu, bagaimana seharusnya kita bersikap? Tidak ada yang melarang bersimpati. Simpati adalah tanda kita memiliki hati nurani. Tidak ada yang melarang berpendapat atau bahkan "bersuara keras" terhadap suatu isu. Pada dasarnya, itu adalah sebagian dari kebebasan berekspresi dan hal itu dijamin secara universal di dunia ini. Namun, setidaknya, sebagai muslim, kita harus cerdas. Kita harus pandai melihat isu, jangan mudah terprovokasi, jangan hanya karena persamaan agama atau pandangan politik, lantas kita dengan mudahnya mendukung pihak tertentu tanpa benar-benar paham masalahnya.

Posisi saya tetap sama, muslim pada dasarnya adalah manusia; manusia bisa dan pasti (berbuat) salah. Jadi, hanya karena ada "saudara" muslim kita di luar sana yang terlibat konflik, saya pikir, kita tetap harus mencermati betul apa inti masalahnya. Kalau perlu, buatlah riset sendiri, cari tahu sendiri, buktikan sendiri. Ini memang butuh usaha lebih, tapi kalau kita memang berpihak pada kebenaran, terkadang memang diperlukan upaya-upaya ekstra agar tak terjebak dalam "kesesatan" berpikir.

Karakter masyarakat kita, dari dulu, memang mudah terprovokasi. Karena itu, Belanda dulu menerapkan taktik politik "Devide et Impera" atau yang bisa disebut sebagai politik adu domba. Ternyata, dari dulu, kita memang "senang" dan mudah diadu domba. Jadi, kita (memang) mudah diprovokasi, dan itu harus kita akui.

Saat ini, kita hidup di era derasnya arus informasi. Siapa pun, tanpa melihat latar belakangnya, bisa menjadi sumber informasi. Parahnya lagi, sekarang semua orang bisa dengan mudah menyebarkan berbagai informasi tadi yang kadang tidak jelas dari mana sumbernya. Sementara, orang-orang Indonesia (yang mayoritas memeluk Islam, dan sebetulnya Islam mengajarkan supaya jadi orang-orang yang berilmu), sering kali terlanjur tersulut emosi hanya karena... headline, yang memang semakin lama semakin provokatif.

Jadi, saya pikir, orang-orang Indonesia, terutama umat Islam di negeri ini (sebagai mayoritas), haruslah menjadi contoh, bukannya yang justru sering membuat "keributan" (yang sering kali tak perlu diributkan) karena kurangnya ilmu. Kalau memang negeri ini adalah negeri yang populasi masyarakatnya menganut agama yang (dikatakan) "rahmatan lil ‘alamin", yaitu agama yang membawa rahmat dan kesejahteraan bagi semua seluruh alam semesta, saya pikir seharusnya sih, negeri ini sudah sejahtera dari dahulu kala. Namun, kalau dirasa belum sejahtera, belum tentram, saya pikir ada baiknya kita semua becermin dan introspeksi diri

Artikel ini juga dipublikasikan di Selasar.com.

   Add Friend

18 Oktober 2015

Mudah Mengafirkan Orang di Media Sosial, Tanda Kurang Vitamin Iman

Beberapa bulan terkhir ini, saya memperhatikan ada satu isu di media-media sosial yang menjadi tren. Kita sebut saja isu ini terkait "kebencian" atas golongan (Islam) Syiah. Hal ini tentunya penuh perdebatan. Dengan menulis seperti ini pun sebetulnya pikiran saya berdebat satu sama lain mengenai golongan yang satu ini. Namun, saya pikir hal ini sangat menarik dibahas karena saya pribadi melihat karakter masyarakat kita yang semakin gemar menuduh, menghakimi sepihak, danparahnya(istilah saya) gemar "mengafirkan" orang lain sebagai hal yang sangat parah. Bukan lagi mengkhawatirkan. Saya tidak mau terkesan diplomatis, tapi memang menurut saya sebagian besar karakter masyarakat kita sudah sangat parah. Atau, okelah, saya mau bilang kondisi masyarakat kita yang sebagian besar menganut Islam (dan kita bangga sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di dunia) ini sama sekali tidak mencerminkan bahwa masih ada "Islam" di hati masyarakat.

Wah, gawat juga. Kesannya, saya seperti orang sakti yang bisa tahu kadar keislaman di tiap hati individu di negara ini. Nanti saya yang dibilang kafir, kan jadi panjang urusannya. Bukan, sama sekali bukan begitu. Ini hanya sekadar curahan hati saya yang semakin resah dengan perilaku masyarakat kita (yang katanya mayoritas menganut Islam) ini.

Di media-media sosial, yang saya pikir saat ini telah menjadi satu kebutuhan yang tak terpisahkan dari masyarakat, kerap kali saya melihat orang-orang menyebarkan konten-konten penuh kebencian. Dari sini pun saya berpikir, apakah orang-orang Indonesia sekarang benar-benar "pencinta" permusuhan? Rasa-rasanya, hampir setiap hari isu SARA bisa menjadi topik yang tak lagi perlu rambu-rambu tertentu dalam membahasnya. Rasa-rasaya, Indonesia yang "toleran" itu telah hilang, entah ke mana.

Satu hal yang membuat saya tak habis pikir adalah fakta bahwa negeri ini adalah negeri yang populasi masyarakatnya menganut agama yang (dikatakan) "rahmatan lil ‘alamin". Ya, Islam. Artinya, Islam merupakan agama yang membawa rahmat dan kesejahteraan bagi semua seluruh alam semesta. Saya pikir kata "bagi seluruh alam semesta" di sini perlu digaris bawahi setebal-tebalnya. Islam hadir bukan hanya untuk umat Islam itu sendiri, melainkan untuk seluruh alam semesta. Jika ada yang kurang paham makna "alam semesta" di sini, saya bisa sedikit (bantu) perjelas bahwa itu maksudnya termasuk hewan, tumbuhan, segala makhluk ciptaan-Nya, apalagi sesama manusia, tak melihat latar belakang suku atau rasnya, apalagi kepercayaannya.

Sekarang, mari kita lihat sejenak apa yang terjadi dengan masyarakat kita saat ini. Lihatlah di media sosial. Saya pikir media sosial itu memang cerminan nyata yang secara jelas menggambarkan kondisi karakter dan mental masyarakat kita saat ini. Berapa kali Anda membaca atau sekadar melihat ada konten-konten bermuatan judgemental 'menghakimi' di halaman news feed atau linimasa media sosial Anda? Saya pribadi, hampir setiap hari. Saya cukup sering melihat kata "kafir" ada di halaman news feed atau linimasa media sosial saya.

Siapkah Orang Kafir?

Bicara soal muatan kata-kata "kafir" ini, ya tentunya tak lain dan tak bukan adalah konten-konten Islam. Rasa-rasanya kan memang kata "kafir" ini semacam menjadi kata khusus yang hanya boleh diucapkan oleh orang Islam. Mungkin saya kurang baca (atau kurang pergaulan), tapi saya memang hampir tidak pernah membaca ada konten dari agama lain yang menyebutkan kata "kafir". Dan memang, setelah saya cek di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) pun, kafir dimaknai sebagai orang yang tidak percaya kepada Allah dan rasul-Nya. Artinya, memang saya pikir kata ini "eksklusif" bagi umat Islam.

Namun, apakah dengan begitu kita bisa dengan bebas menggunakan kata ini di mana pun kita berada. Oke, katakanlah ini soal kebebasan berekspresi, tapi kan kebebasan itu juga perlu akal (dan karena itulah jenis seperti kita ini disebut "manusia"). Artinya, kalau mengacu pada arti di KBBI tersebut, jujur saja, saya hidup di perumahan dan bertetangga dengan banyak "kafir". Coba ucapkan hal tersebut kepada tentangga Anda, misalnya. Kira-kira apa reaksi mereka? Tersinggung? Saya pikir itu sudah pasti. Loh, kenapa? Faktanya, non-Muslim memang tidak mengimani Allah dan rasul-Nya. Mereka beriman pada Tuhan yang mereka percaya (dan sebetulnya, Islam pun menjamin bahwa "Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku"). Namun, kata "kafir" bagaimanapun, punya kesan yang negatif. Entah mana yang lebih "hina" (di mata beberapa orang tertentu), orang kafirkah atau orang penganut paham ateiskah?

Namun demikian, karena kita orang (Islam) Indonesia, karena kita diajarkan sopan santun, kita belajar moral, kita tahu etika, kita tidak serta-merta menyebut teman atau tetangga kita yang tak seagama dengan kita sebagai orang kafir kan? Saya punya banyak teman non-Muslim dan saya pastinya akan sangat marah kalau ada orang lain yang tiba-tiba menyebut mereka dengan sebagai "kafir". Bukan seperti itu caranya. Terlepas dari makna "kafir" tadi, tapi saya percaya kita semua memaknai isitilah ini dengan lebih dalam, bahwa kata "kafir" punya kesan yang sangat negatif sehingga ketika seseorang dicap sebagai "kafir" saya pikir hampir tidak ada kebaikan yang tersisa dalam dirinyaitu perspesi saya.

Sekarang, jika kita masih punya hati (dan saya yakin kita masih punya) untuk tidak tiba-tiba menyebut teman atau orang non-Muslim lainnya sebagai "kafir", kenapa kita, umat Islam di negeri ini, di media-media sosial kerap "mengafirkan" orang Islam lainnya? Siapakah yang berhak menghakimi bahwa seseorang itu adalah kafir? Apakah kita berhak? Tidak.

Syiah = Kafir?

Katakanlah kita bicara soal golongan Syiah. Saya pikir, perselisihan antara Sunni dan Syiah sangat "mencoreng" Islam. Dan kini, di Indonesia, setidaknya dalam beberapa tahun terakhir, saya melihat gerakan anti-Syiah semakin tumbuh. Kebencian akan Syiah ditebarkan. Bahkan beberapa tokoh dituduh sebagai pengikut Syiah, beberapa orang dituduh sebagai orang-orang yang "sengaja" mendakwahkan ajaran Syiah, dan sebagainya. Parahnya lagi, setelah itu, muncul tren "mengafirkan" Syiah. Muncul semacam "gerakan" di media-media sosial yang terus-menerus mengecam Syiah.

Saya bukan pro-Syiah. Saya jelas tidak sepakat dengan Syiah. Saya juga membaca soal Sunni dan Syiah. Namun, kembali ke masalah "menjadi manusia" dan konsep Islam sebagai agama yang membawa kesejahteraan bagi semua seluruh alam semesta, apakah dengan "mengafirkan" Syiah dan menyebarkan kebencian terhadap Syiah mencerminkan konsep Islam tadi? Tentunya tidak. Kalau toh kita tidak setuju terhadap sesuatu, apa perlu kita berteriak-teriak bahwa mereka yang tidak setuju itu bodoh dan karena itu harus diperangi? Tentunya tidak begitu.

Lantas, jika ada argumen seperti, "Tapi mereka mengatasnamakan diri sebagai Islam, sedangkan Islam tidak seperti apa yang mereka (Syiah) kerjakan!" Ya, saya pun setuju. Saya setuju bahwa Syiah itu tidak bisa dikatakan sebagai Islam. Bagi saya, mereka menyimpang dari ajaran agama Islam. Namun, apakah dengan begitu saya berhak untuk mengklaim bahwa mereka (pengikut Syiah) adalah orang-orang kafir, mereka pasti masuk neraka, mereka harus dimusuhi, bahkan harus diperangi (terkait dukungan beberapa orang yang kurang paham masalah dengan perang saudara yang sedang terjadi di Suriah, misalnya), dan segala hal-hal lain yang penuh kebencian.

Bukankah hanya Allah yang berhak menghakimi (jika memang Anda sepakat dengan saya)? Kalau ada orang-orang sudah lebih dulu menghakimi orang lain dengan cap-cap tertentu, sedangkan Allah masih memberikan segala nikmat dan karunia-Nya kepada kaum yang dianggap "kafir" itu, saya pikir, ada baiknya mereka berhenti sejenak dan tatap cermin seraya menanyakan pada diri mereka, apakah dengan begitu bukankah mereka sudah "bertindak" layaknya Tuhan? Jadi, siapa yang lebih "kafir"? Yang satu menjalankan ajaran yang menyimpang, sementara yang satunya mengaku beragama dan beriman, tapi seolah-olah merasa paling benar hingga bisa memberikan cap mana yang "kafir" dan mana yang "beriman". Sementara, ia tak sadar bahwa dengan begitu ia sudah mulai sedikit demi sedikit bertindak sebagai "Tuhan" karena memang cuma Tuhanlah yang punya hak untuk menilai soal keimanan dan kekafiran seseorang.

Berbeda bukan berarti kafir, stop mengkafir-kafirkan :D
Posted by KOIN Komik Iseng Nuzie on Tuesday, July 14, 2015

Tak Suka? Berdakwahlah dengan Cerdas!

Lalu, muncul lagi pertanyaan, "Tapi kalau kita tahu mereka (Syiah) salah, menyimpang, dsb., sementara ajaran mereka mulai menyebar di Indonesia, apa yang harus kita lakukan untuk melindungi umat?" Ya, berdakwahlah! Berdakwah ya, bukan menyebar kebencian. Berdakwah, bukan membodoh-bodohi orang dengan memberikan informasi yang juga menyimpang dari fakta.

Saya belum berkeluarga, dan bukan pakar soal mengurus anak. Tapi anggaplah saya punya anak. Anak ini punya teman di sekolah (dan sekelas) yang kebetulan perilakunya tidak baik, katakanlah temannya ini suka mencuri barang teman sekelasnya. Karena anak ini masih belum mengerti, dan saya tidak mau anak ini ikut "terjerumus" sehingga berperilaku sama seperti temannya ini, maka saya harus selalu memberikan nasihat. Nasihat yang seperti apa? Kan tidak mungkin, pertama, saya "melabrak" temannya anak ini, atau mengutuk si anak ini (istilahnya, disumpahi), atu hal-hal kekanak-kanakan lainnya. Kalau saya melakukan hal tersebut maka patut dipertanyakan siapa sebetulnya yang masih "anak-anak"? Atau, yang kedua, saya tidak mungkin menasihati anak ini dengan kisah-kisah menakutkan, seperti bahwa kalau mencuri itu perbuatan dosa (ini benar), tapi kemudian dilanjutkan dengan kisah bahwa kalau mencuri, masuk neraka, neraka itu sangat pedih, nanti tangannya bisa dipotong, dan semacamnya. Sekalipun itu adalah hal yang saya yakini (misalnya), tapi kan bukan berarti saya harus mengatakan hal seperti itu. Ada hal-hal lain yang bisa saya katakan demi mencegah si anak tidak ikut berperilaku seperti temannya. Saya bisa menasihati dengan cara lain, atau ajarkan untuk lebih bersyukur atas apa yang ia miliki, atau bakan bisa mengajarkan si anak untuk bisa menasihati temannya agar tidak mencuritanpa harus memberikan julukan tertentu, seperti "si maling" atau "si klepto", atau apa pun kepada temannya anak ini.

Saya pikir "dakwah" semacam itulah yang seharusnya digalakkan. Bukan dakwah-dakwah ala media sosial, sebar artikel ini-itu (yang padahal belum tentu dibaca sepenuhnya dari atas sampai bawah), bahkan yang disebar pun belum tentu berasal dari sumber yang kredibel. Tentunya, silakan berbagi artikel di dunia maya. Tidak ada yang melarang untuk berbagi. Namun, untuk kasus-kasus semacam ini, daripada kita menyebarkan artikel-artikel penuh kebencian (yang pada akhirnya juga membuat umat agama lain geleng-geleng kepala dengan Islam), kenapa tidak sebarkan artikel-artikel yang memang fokus untuk mengedukasi umat, bukannya "mengafirkan" orang lain. Saya pikir itu jauh lebih baik daripada kita hanya sekedar berkoar-koar meneriakkan kebencian, hingga lupa bahwa kita pun manusia, dan kita bisa (dan pasti) salah.

Artikel ini juga dipublikasikan di Selasar.com.

   Add Friend