20 Oktober 2015

Bagaimana Seharusnya Muslim Indonesia Menanggapi Isu Internasional?

Setidaknya hampir selama tiga minggu terakhir, isu serangan militer Rusia (terhadap ISIS) di Suriah menjadi salah satu isu internasional yang kerap menjadi perbincangan di berbagai media, baik di dalam maupun luar negeri. Segala macam reaksi pro dan kontra (atas tindakan Rusia) bermunculan, dan tentu saja, tak terkecuali dari masyarakat Indonesia.

Namun, berdasarkan pengamatan pribadi, saya tak melihat reaksi masyarakat Indonesia yang begitu kontra pada serangan udara Rusia di Suriah ini. Reaksi masyarakat kali ini jelas sangat berbeda dari reaksi yang biasa ditunjukkan saat terjadinya, misalnya, serangan militer Israel kepada Palestina. Memang, pada dasarnya, konflik yang terjadi di Suriah, atau apa yang dilakukan Rusia di Suriah, jelas sangat berbeda dengan apa yang terjadi antara Palestina dan Israel, atau apa yang terjadi pada saat Perang Irak sepuluh tahun silam.

Tentunya, tetap ada demonstrasi atau protes dari kalangan tertentu kepada Rusia. Orang-orang ini sempat berdemonstrasi di depan Kedutaan Besar Rusia di Jakarta. Mereka (seperti biasa) membakar bendera negara yang diprotes dan memasang poster antinegara yang mereka "kutuk" di depan kedutaannya. Namun, saya pikir ini hanya protes "kecil-kecilan" jika dibandingkan dengan aksi protes yang biasa dilakukan saat bergejolaknya situasi di bumi Palestina.

Protes anti Rusia menolak operasi militer di Suriah Ratusan orang melakukan protes terhadap operasi militer Rusia di...
Posted by BBC Indonesia on Friday, October 16, 2015

Sebenarnya apa yang terjadi di Suriah? Kepada siapakah seharusnya kita berpihak? Sejujurnya, ini adalah masalah yang sangat (dan terlanjur) kompleks. Saya pikir, kita (orang Indonesia) harus lebih cerdas dalam melihat isu, apalagi isu-isu internasional. Kita tak bisa bereaksi hanya atas dasar persamaan agama, misalnya. Saya lihat, memang itulah yang kerap terjadi. Hanya karena Rasul berwasiat bahwa seorang muslim itu adalah saudara bagi muslim lainnya (dan karena itu kita harus saling membantu jika ada muslim lainnya yang mendapatkan kesulitan, apalagi dizalimi oleh orang-orang "kafir"), bukan berarti hal tersebut harus ditafsirkan secara harfiah hingga kita tak melihat di pihak mana kebenaran itu sebenarnya berpijak. Kita tidak boleh hanya mengedepankan perasaan dan emosi semata. Setidaknya, sebelum bereaksi (apalagi menuduh salah satu pihak yang dianggap penyebab pertikaian), sebaiknya kita benar-benar paham atas situasi yang sebenarnya terjadi. Bukankah muslim itu juga manusia? Dan manusia bisa dan pasti berbuat salah. Artinya, hanya karena ada muslim atau komunitas muslim berperang, kita tidak bisa serta-merta mendukung gerakan "perjuangan" (komunitas) muslim tersebut dan dengan mudahnya "mengutuk" pihak lainnya, tanpa benar-benar paham apa yang sebenernya terjadi. Di sinilah, saya pikir, kita sebagai makhluk yang berakal, harus tetap cerdas dalam melihat suatu isu.

Belajar dari Konflik Mesir

Pada 2013 lalu, terjadi protes besar-besaran di Mesir. Ratusan ribu pengunjuk rasa berdemonstrasi menentang Presiden Mesir Muhammad Mursi. Demonstrasi besar ini telah menyebabkan bentrokan antara anggota dan pendukung Freedom and Justice Party (Partai Kebebasan dan Keadilan) yang disokong Ikhwanul Muslimin dan pengunjuk rasa anti-Mursi, dan pada akhirnya pun melibatkan angkatan bersenjata Mesir (sehingga terkesan saat itu terjadi kudeta terhadap pemerintahan Mursi). Singkat cerita, pada akhirnya Mursi turun dari jabatannya. Namun, peristiwa ini tentunya mendapatkan reaksi keras dari Indonesia.

Saya ingat, posisi atau reaksi sebagian besar umat Islam di Indonesia yang berunjuk rasa di berbagai daerah saat itu mengutuk tindakan kudeta angkatan bersenjata Mesir terhadap Mursi. Bahkan, saya ingat, banyak sekali konten-konten yang dibagikan di dunia maya terkait prestasi Presiden Mursi dan kenapa orang sebaik beliau diturunkan? Tentunya, saya tidak punya bukti valid, tapi saya berasumsi fenomena semacam ini, menyebarkan daftar prestasi dan kebaikan pemimpin negara lain, hanya terjadi di Indonesia.

Mengapa saat itu, mayoritas umat Islam di Indonesia (atau baiklah, sebut saja, dari golongan muslim tertentu) sangat menujukkan keberpihakan mereka pada Mursi. Padahal... jelas, peristiwa itu tak terjadi di Indonesia, Mursi bukanlah pemimpin Indonesia, dan (menurut pemikiran sederhana saya) apa yang terjadi dengan Mursi atau kebijakan sang presiden di Mesir tidak akan berpengaruh terhadap meningkatnya kesejahteraan rakyat Indonesia, misalnya. Lalu, kenapa ada sebagian besar golongan yang begitu "marah" saat meletusnya demonstrasi besar-besaran di Mesir hingga akhirnya Mursi harus diturunkan dan bahkan dipenjara?

Lagi-lagi, saya berasumsi, bahwa ini memang ada kaitannya dengan gerakan Ikhwanul Muslimin (atau biasa disebut "Ikhwan"). Gerakan Ikhwan memang lahir di Mesir dan berpusat di Mesir. Namun demikian, gerakan dan pemikiran Ikhwan yang mengajak dan menuntut ditegakkannya syariat Islam, termasuk dalam kegiatan politik, berhasil menyebar ke seluruh dunia, tak terkecuali Indonesia. Ikhwanul Muslimin cukup banyak memberikan inspirasi pada organisasi-organisasi di Indonesia, tapi tidak jelas mana yang benar-benar berhubungan "secara resmi" dengan Ikhwan di Mesir. Namun, bisa dikatakan, salah satu organisasi di Indonesia yang terinspirasi dari Ikhwanul Muslimin adalah Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Dari asumsi itu, saat pun saya pikir menjadi logis jika pengikut partai atau organisasi di Indonesia yang (dikabarkan) terinspirasi (atau bahkan mungkin berafiliasi) dengan Ikhwan di Mesir, secara terbuka mendukung Mursi dan memprotes "kudeta" yang dilakukan angkatan bersenjata Mesir. Namun, karena saya tidak mau menjadi golongan orang-orang yang mengedepankan ilmu "cocoklogi" atau ilmu "konspirasi", saya coba buat riset sederhana dengan cara bertanya langsung pada masyarakat Mesir. Bagi saya, siapalah kita hingga bisa menentukan siapa yang benar dan salah, sementara kita bukan warga negara itu dan kita tidak merasakan dampak dari kebijakan yang dibuat si pemimpin tersebut secara langsung?

Sementara, sebagai orang media, saya pun bisa mengatakan bahwa saya tak bisa percaya sepenuhnya pada media. Media, baik di dalam maupun luar negeri, pasti punya agenda tersendiri dalam memberitakan dan "membingkai" isu yang mereka anggap penting. Oleh karena itu, saya pikir, kenapa tidak saya tanyakan langsung kepada warga Mesir? Dengan begitu, saya bisa mendapatkan perspektif alternatif langsung dari pihak yang benar-benar merasakan dan mengalami peristiwa di sana.

Pada mulanya, saya bertanya pada seorang teman saya, dia orang Mesir. Pada saat meletusnya demonstrasi, kebetulan ia sedang berada di Jakarta, dan saya pun melakukan sedikit wawancara terkait opininya terhadap peristiwa yang terjadi di Mesir saat itu. Jawabannya ternyata bertolak belakang dengan apa yang "dibesar-besarkan" di Indonesia saat itu. Ya, dia tidak mendukung Mursi dan ia menjelaskan mengapa orang-orang melakukan protes terhadap Mursi, dan apa yang dilakukan angkatan bersenjata Mesir saat itu bukanlah kudeta.

Saya tentunya mendapat perspektif baru dari hal tersebut. Saya pun memublikasikan hasil "sharing" bersama teman Mesir saya di blog dan juga Twitter. Hasilnya? Cukup banyak komentar negatif. Ada pula yang bilang bahwa apa yang saya lakukan tentunya tidak mewakili pendapat rakyat Mesir pada umumnya. Dalam hal ini, saya pikir itu memang benar. Karena itu, saya pun tidak menyerah dan saya benar-benar mencari orang Mesir secara acak di dunia maya untuk saya tanyakan pendapatnya terkait peristiwa yang terjadi di negara mereka saat itu.

Keesokan paginya, saya berdiskusi dengan 11 orang Mesir usia 20 - 40 tahun. Saya tidak kenal mereka sebelumnya dan saya pilih secara acak dari situs Interpals. Hal ini saya lakukan semata-mata untuk memberikan perspektif alternatif. Tentunya, saya tidak mengaku sebagai orang yang tahu atau paham betul soal ini, sama sekali tidak, hanya saja, saya mencoba untuk memberikan pandangan lain dengan berusaha tanya dengan mereka yang tinggal di daerah konflik dan (mudah-mudahan) lebih tahu kejadian sebenarnya.

Hasilnya? Lebih kurang sama dan saya publikasikan kembali di blog. Mayoritas orang-orang yang saya tanyai juga tidak mendukung Mursi dan mereka menjelaskan mengapa mereka melakukan aksi protes. Pada akhirnya, tetap ada yang mengatakan bahwa apa yang saya dapat ini tetap belum representatif, tidak mewakili rakyat Mesir keseluruhan. Saya toh tetap tidak pernah mengklaim bahwa apa yang saya dapatkan 100% mencerminkan keadaan sebenarnya, tidak sama sekali. Saya, cuma mau bilang, yok orang Indonesia, saudara-saudara sebangsa setanah air, kita harus lebih cerdas. Dalam hal seperti ini, sebenarnya bukan "ranah" kita untuk menghakimi siapa yang (paling) benar dan (paling) salah. Paling mentok, kita hanya bisa menilai. But please, do not judge. Kita bahkan tidak hidup dan tinggal di sana.

Harus Apa?

Lalu, bagaimana seharusnya kita bersikap? Tidak ada yang melarang bersimpati. Simpati adalah tanda kita memiliki hati nurani. Tidak ada yang melarang berpendapat atau bahkan "bersuara keras" terhadap suatu isu. Pada dasarnya, itu adalah sebagian dari kebebasan berekspresi dan hal itu dijamin secara universal di dunia ini. Namun, setidaknya, sebagai muslim, kita harus cerdas. Kita harus pandai melihat isu, jangan mudah terprovokasi, jangan hanya karena persamaan agama atau pandangan politik, lantas kita dengan mudahnya mendukung pihak tertentu tanpa benar-benar paham masalahnya.

Posisi saya tetap sama, muslim pada dasarnya adalah manusia; manusia bisa dan pasti (berbuat) salah. Jadi, hanya karena ada "saudara" muslim kita di luar sana yang terlibat konflik, saya pikir, kita tetap harus mencermati betul apa inti masalahnya. Kalau perlu, buatlah riset sendiri, cari tahu sendiri, buktikan sendiri. Ini memang butuh usaha lebih, tapi kalau kita memang berpihak pada kebenaran, terkadang memang diperlukan upaya-upaya ekstra agar tak terjebak dalam "kesesatan" berpikir.

Karakter masyarakat kita, dari dulu, memang mudah terprovokasi. Karena itu, Belanda dulu menerapkan taktik politik "Devide et Impera" atau yang bisa disebut sebagai politik adu domba. Ternyata, dari dulu, kita memang "senang" dan mudah diadu domba. Jadi, kita (memang) mudah diprovokasi, dan itu harus kita akui.

Saat ini, kita hidup di era derasnya arus informasi. Siapa pun, tanpa melihat latar belakangnya, bisa menjadi sumber informasi. Parahnya lagi, sekarang semua orang bisa dengan mudah menyebarkan berbagai informasi tadi yang kadang tidak jelas dari mana sumbernya. Sementara, orang-orang Indonesia (yang mayoritas memeluk Islam, dan sebetulnya Islam mengajarkan supaya jadi orang-orang yang berilmu), sering kali terlanjur tersulut emosi hanya karena... headline, yang memang semakin lama semakin provokatif.

Jadi, saya pikir, orang-orang Indonesia, terutama umat Islam di negeri ini (sebagai mayoritas), haruslah menjadi contoh, bukannya yang justru sering membuat "keributan" (yang sering kali tak perlu diributkan) karena kurangnya ilmu. Kalau memang negeri ini adalah negeri yang populasi masyarakatnya menganut agama yang (dikatakan) "rahmatan lil ‘alamin", yaitu agama yang membawa rahmat dan kesejahteraan bagi semua seluruh alam semesta, saya pikir seharusnya sih, negeri ini sudah sejahtera dari dahulu kala. Namun, kalau dirasa belum sejahtera, belum tentram, saya pikir ada baiknya kita semua becermin dan introspeksi diri

Artikel ini juga dipublikasikan di Selasar.com.

   Add Friend

2 komentar :

Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

APAKAH ANDA MEMBUTUHKAN PINJAMAN JIKA YA BERLAKU SEKARANG.

LUIS CARLOS FINANCE Perusahaan terbatas pada modal saham. Kami menawarkan pinjaman dan jasa keuangan dari segala jenis. Pinjaman kami bervariasi dari bisnis hingga pinjaman pribadi atau kondisi jangka panjang atau jangka pendek dengan tingkat suku bunga yang baik (2%). Proses pinjaman kami sangat cepat dan terpercaya dengan jaminan. Untuk informasi lebih lanjut tentang layanan kami, kunjungi kami di email kami; (luiscarlosfinance@outlook.com) beri tahu kami jumlah pinjaman yang Anda butuhkan dan inginkan durasi pinjaman. Kami berharap bisa mendengar kabar dari Anda. Anda bisa mengirim pesan ke alamat email di bawah ini. Luiscarlosfinance@outlook.com

CATATAN: semua email harus diteruskan ke: luiscarlosfinance@outlook.com

Posting Komentar

Silakan tulis opini atau komentarmu.