18 Oktober 2015

Mudah Mengafirkan Orang di Media Sosial, Tanda Kurang Vitamin Iman

Beberapa bulan terkhir ini, saya memperhatikan ada satu isu di media-media sosial yang menjadi tren. Kita sebut saja isu ini terkait "kebencian" atas golongan (Islam) Syiah. Hal ini tentunya penuh perdebatan. Dengan menulis seperti ini pun sebetulnya pikiran saya berdebat satu sama lain mengenai golongan yang satu ini. Namun, saya pikir hal ini sangat menarik dibahas karena saya pribadi melihat karakter masyarakat kita yang semakin gemar menuduh, menghakimi sepihak, danparahnya(istilah saya) gemar "mengafirkan" orang lain sebagai hal yang sangat parah. Bukan lagi mengkhawatirkan. Saya tidak mau terkesan diplomatis, tapi memang menurut saya sebagian besar karakter masyarakat kita sudah sangat parah. Atau, okelah, saya mau bilang kondisi masyarakat kita yang sebagian besar menganut Islam (dan kita bangga sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di dunia) ini sama sekali tidak mencerminkan bahwa masih ada "Islam" di hati masyarakat.

Wah, gawat juga. Kesannya, saya seperti orang sakti yang bisa tahu kadar keislaman di tiap hati individu di negara ini. Nanti saya yang dibilang kafir, kan jadi panjang urusannya. Bukan, sama sekali bukan begitu. Ini hanya sekadar curahan hati saya yang semakin resah dengan perilaku masyarakat kita (yang katanya mayoritas menganut Islam) ini.

Di media-media sosial, yang saya pikir saat ini telah menjadi satu kebutuhan yang tak terpisahkan dari masyarakat, kerap kali saya melihat orang-orang menyebarkan konten-konten penuh kebencian. Dari sini pun saya berpikir, apakah orang-orang Indonesia sekarang benar-benar "pencinta" permusuhan? Rasa-rasanya, hampir setiap hari isu SARA bisa menjadi topik yang tak lagi perlu rambu-rambu tertentu dalam membahasnya. Rasa-rasaya, Indonesia yang "toleran" itu telah hilang, entah ke mana.

Satu hal yang membuat saya tak habis pikir adalah fakta bahwa negeri ini adalah negeri yang populasi masyarakatnya menganut agama yang (dikatakan) "rahmatan lil ‘alamin". Ya, Islam. Artinya, Islam merupakan agama yang membawa rahmat dan kesejahteraan bagi semua seluruh alam semesta. Saya pikir kata "bagi seluruh alam semesta" di sini perlu digaris bawahi setebal-tebalnya. Islam hadir bukan hanya untuk umat Islam itu sendiri, melainkan untuk seluruh alam semesta. Jika ada yang kurang paham makna "alam semesta" di sini, saya bisa sedikit (bantu) perjelas bahwa itu maksudnya termasuk hewan, tumbuhan, segala makhluk ciptaan-Nya, apalagi sesama manusia, tak melihat latar belakang suku atau rasnya, apalagi kepercayaannya.

Sekarang, mari kita lihat sejenak apa yang terjadi dengan masyarakat kita saat ini. Lihatlah di media sosial. Saya pikir media sosial itu memang cerminan nyata yang secara jelas menggambarkan kondisi karakter dan mental masyarakat kita saat ini. Berapa kali Anda membaca atau sekadar melihat ada konten-konten bermuatan judgemental 'menghakimi' di halaman news feed atau linimasa media sosial Anda? Saya pribadi, hampir setiap hari. Saya cukup sering melihat kata "kafir" ada di halaman news feed atau linimasa media sosial saya.

Siapkah Orang Kafir?

Bicara soal muatan kata-kata "kafir" ini, ya tentunya tak lain dan tak bukan adalah konten-konten Islam. Rasa-rasanya kan memang kata "kafir" ini semacam menjadi kata khusus yang hanya boleh diucapkan oleh orang Islam. Mungkin saya kurang baca (atau kurang pergaulan), tapi saya memang hampir tidak pernah membaca ada konten dari agama lain yang menyebutkan kata "kafir". Dan memang, setelah saya cek di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) pun, kafir dimaknai sebagai orang yang tidak percaya kepada Allah dan rasul-Nya. Artinya, memang saya pikir kata ini "eksklusif" bagi umat Islam.

Namun, apakah dengan begitu kita bisa dengan bebas menggunakan kata ini di mana pun kita berada. Oke, katakanlah ini soal kebebasan berekspresi, tapi kan kebebasan itu juga perlu akal (dan karena itulah jenis seperti kita ini disebut "manusia"). Artinya, kalau mengacu pada arti di KBBI tersebut, jujur saja, saya hidup di perumahan dan bertetangga dengan banyak "kafir". Coba ucapkan hal tersebut kepada tentangga Anda, misalnya. Kira-kira apa reaksi mereka? Tersinggung? Saya pikir itu sudah pasti. Loh, kenapa? Faktanya, non-Muslim memang tidak mengimani Allah dan rasul-Nya. Mereka beriman pada Tuhan yang mereka percaya (dan sebetulnya, Islam pun menjamin bahwa "Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku"). Namun, kata "kafir" bagaimanapun, punya kesan yang negatif. Entah mana yang lebih "hina" (di mata beberapa orang tertentu), orang kafirkah atau orang penganut paham ateiskah?

Namun demikian, karena kita orang (Islam) Indonesia, karena kita diajarkan sopan santun, kita belajar moral, kita tahu etika, kita tidak serta-merta menyebut teman atau tetangga kita yang tak seagama dengan kita sebagai orang kafir kan? Saya punya banyak teman non-Muslim dan saya pastinya akan sangat marah kalau ada orang lain yang tiba-tiba menyebut mereka dengan sebagai "kafir". Bukan seperti itu caranya. Terlepas dari makna "kafir" tadi, tapi saya percaya kita semua memaknai isitilah ini dengan lebih dalam, bahwa kata "kafir" punya kesan yang sangat negatif sehingga ketika seseorang dicap sebagai "kafir" saya pikir hampir tidak ada kebaikan yang tersisa dalam dirinyaitu perspesi saya.

Sekarang, jika kita masih punya hati (dan saya yakin kita masih punya) untuk tidak tiba-tiba menyebut teman atau orang non-Muslim lainnya sebagai "kafir", kenapa kita, umat Islam di negeri ini, di media-media sosial kerap "mengafirkan" orang Islam lainnya? Siapakah yang berhak menghakimi bahwa seseorang itu adalah kafir? Apakah kita berhak? Tidak.

Syiah = Kafir?

Katakanlah kita bicara soal golongan Syiah. Saya pikir, perselisihan antara Sunni dan Syiah sangat "mencoreng" Islam. Dan kini, di Indonesia, setidaknya dalam beberapa tahun terakhir, saya melihat gerakan anti-Syiah semakin tumbuh. Kebencian akan Syiah ditebarkan. Bahkan beberapa tokoh dituduh sebagai pengikut Syiah, beberapa orang dituduh sebagai orang-orang yang "sengaja" mendakwahkan ajaran Syiah, dan sebagainya. Parahnya lagi, setelah itu, muncul tren "mengafirkan" Syiah. Muncul semacam "gerakan" di media-media sosial yang terus-menerus mengecam Syiah.

Saya bukan pro-Syiah. Saya jelas tidak sepakat dengan Syiah. Saya juga membaca soal Sunni dan Syiah. Namun, kembali ke masalah "menjadi manusia" dan konsep Islam sebagai agama yang membawa kesejahteraan bagi semua seluruh alam semesta, apakah dengan "mengafirkan" Syiah dan menyebarkan kebencian terhadap Syiah mencerminkan konsep Islam tadi? Tentunya tidak. Kalau toh kita tidak setuju terhadap sesuatu, apa perlu kita berteriak-teriak bahwa mereka yang tidak setuju itu bodoh dan karena itu harus diperangi? Tentunya tidak begitu.

Lantas, jika ada argumen seperti, "Tapi mereka mengatasnamakan diri sebagai Islam, sedangkan Islam tidak seperti apa yang mereka (Syiah) kerjakan!" Ya, saya pun setuju. Saya setuju bahwa Syiah itu tidak bisa dikatakan sebagai Islam. Bagi saya, mereka menyimpang dari ajaran agama Islam. Namun, apakah dengan begitu saya berhak untuk mengklaim bahwa mereka (pengikut Syiah) adalah orang-orang kafir, mereka pasti masuk neraka, mereka harus dimusuhi, bahkan harus diperangi (terkait dukungan beberapa orang yang kurang paham masalah dengan perang saudara yang sedang terjadi di Suriah, misalnya), dan segala hal-hal lain yang penuh kebencian.

Bukankah hanya Allah yang berhak menghakimi (jika memang Anda sepakat dengan saya)? Kalau ada orang-orang sudah lebih dulu menghakimi orang lain dengan cap-cap tertentu, sedangkan Allah masih memberikan segala nikmat dan karunia-Nya kepada kaum yang dianggap "kafir" itu, saya pikir, ada baiknya mereka berhenti sejenak dan tatap cermin seraya menanyakan pada diri mereka, apakah dengan begitu bukankah mereka sudah "bertindak" layaknya Tuhan? Jadi, siapa yang lebih "kafir"? Yang satu menjalankan ajaran yang menyimpang, sementara yang satunya mengaku beragama dan beriman, tapi seolah-olah merasa paling benar hingga bisa memberikan cap mana yang "kafir" dan mana yang "beriman". Sementara, ia tak sadar bahwa dengan begitu ia sudah mulai sedikit demi sedikit bertindak sebagai "Tuhan" karena memang cuma Tuhanlah yang punya hak untuk menilai soal keimanan dan kekafiran seseorang.

Berbeda bukan berarti kafir, stop mengkafir-kafirkan :D
Posted by KOIN Komik Iseng Nuzie on Tuesday, July 14, 2015

Tak Suka? Berdakwahlah dengan Cerdas!

Lalu, muncul lagi pertanyaan, "Tapi kalau kita tahu mereka (Syiah) salah, menyimpang, dsb., sementara ajaran mereka mulai menyebar di Indonesia, apa yang harus kita lakukan untuk melindungi umat?" Ya, berdakwahlah! Berdakwah ya, bukan menyebar kebencian. Berdakwah, bukan membodoh-bodohi orang dengan memberikan informasi yang juga menyimpang dari fakta.

Saya belum berkeluarga, dan bukan pakar soal mengurus anak. Tapi anggaplah saya punya anak. Anak ini punya teman di sekolah (dan sekelas) yang kebetulan perilakunya tidak baik, katakanlah temannya ini suka mencuri barang teman sekelasnya. Karena anak ini masih belum mengerti, dan saya tidak mau anak ini ikut "terjerumus" sehingga berperilaku sama seperti temannya ini, maka saya harus selalu memberikan nasihat. Nasihat yang seperti apa? Kan tidak mungkin, pertama, saya "melabrak" temannya anak ini, atau mengutuk si anak ini (istilahnya, disumpahi), atu hal-hal kekanak-kanakan lainnya. Kalau saya melakukan hal tersebut maka patut dipertanyakan siapa sebetulnya yang masih "anak-anak"? Atau, yang kedua, saya tidak mungkin menasihati anak ini dengan kisah-kisah menakutkan, seperti bahwa kalau mencuri itu perbuatan dosa (ini benar), tapi kemudian dilanjutkan dengan kisah bahwa kalau mencuri, masuk neraka, neraka itu sangat pedih, nanti tangannya bisa dipotong, dan semacamnya. Sekalipun itu adalah hal yang saya yakini (misalnya), tapi kan bukan berarti saya harus mengatakan hal seperti itu. Ada hal-hal lain yang bisa saya katakan demi mencegah si anak tidak ikut berperilaku seperti temannya. Saya bisa menasihati dengan cara lain, atau ajarkan untuk lebih bersyukur atas apa yang ia miliki, atau bakan bisa mengajarkan si anak untuk bisa menasihati temannya agar tidak mencuritanpa harus memberikan julukan tertentu, seperti "si maling" atau "si klepto", atau apa pun kepada temannya anak ini.

Saya pikir "dakwah" semacam itulah yang seharusnya digalakkan. Bukan dakwah-dakwah ala media sosial, sebar artikel ini-itu (yang padahal belum tentu dibaca sepenuhnya dari atas sampai bawah), bahkan yang disebar pun belum tentu berasal dari sumber yang kredibel. Tentunya, silakan berbagi artikel di dunia maya. Tidak ada yang melarang untuk berbagi. Namun, untuk kasus-kasus semacam ini, daripada kita menyebarkan artikel-artikel penuh kebencian (yang pada akhirnya juga membuat umat agama lain geleng-geleng kepala dengan Islam), kenapa tidak sebarkan artikel-artikel yang memang fokus untuk mengedukasi umat, bukannya "mengafirkan" orang lain. Saya pikir itu jauh lebih baik daripada kita hanya sekedar berkoar-koar meneriakkan kebencian, hingga lupa bahwa kita pun manusia, dan kita bisa (dan pasti) salah.

Artikel ini juga dipublikasikan di Selasar.com.

   Add Friend

0 komentar :

Posting Komentar

Silakan tulis opini atau komentarmu.