19 November 2015

Disiplin Verifikasi Jurnalisme: Esensial, tapi Kerap Dipandang Sebelah Mata

Saya akui, saya memang gemar mengkritik. Well, siapa yang tidak suka? Berbagai isu yang saya anggap "seksi" (baca: menjadi concern) bagi saya, seperti pendidikan, politik, remaja, dan media, tak jarang saya bahas di blog pribadi dan juga di situs lain, seperti Selasar.com. Namun, katakanlah sebagai "pembelaan", tentu saya mengkritik bukan tanpa bukti atau, minimal, tanpa memverifikasi berbagai data yang saya ambil untuk memperkuat argumentasi saya.

Kali ini, saya akan memberikan satu bukti konkret bagaimana konten media sosial yang disebarkan oleh seseorang yang punya pengaruh memiliki dampak besar. Saya membawa bukti konkret bagaimana seorang jurnalis "besar" pun, ternyata melewatkan satu disiplin yang wajib selalu dia terapkan: disiplin verifikasi. Saya membawa bukti konkret bagaimana media kita di dalam negeri, bahkan yang punya nama sekalipun, melewatkan begitu saja satu disiplin yang sangat esensial ini.

Media Sosial dan Presiden Putin

Sehari-hari saya berurusan dengan media sosial. Bukan hanya untuk kesenangan pribadi, tapi ini juga (sebut saja) tuntutan pekerjaan. Kemarin pagi, bermula dari satu komentar di salah satu konten di halaman Facebook RBTH Indonesia, saya menemukan satu konten yang sangat menarik. Konten tersebut, yang dipublikasikan oleh salah seorang pembaca, merupakan sebuah cuplikan layar (screenshot) judul berita dalam bahasa Jepang dengan gambar Presiden Rusia Vladimir Putin. Di bawah judul dalam bahasa Jepang itu, ada terjemahan dalam bahasa Inggris, yaitu: "Putin: Whether the terrorists are forgiven or not is God's job. My job is to send them to God."

Sebagai seseorang yang sehari-hari berurusan dengan berita Rusia, jelas, reaksi saya: WOW! Saya pikir kata-kata itu sangat luar biasa, sangat powerful. Kata-kata itu (sekilas) menunjukkan kualitas kepemimpinan sang presiden Rusia yang tak main-main dengan terorisme. Kata-kata itu menunjukkan bahwa Putin tidak membiarkan teroris "berpesta-pora" membuat kekacauan dunia dan meneror masyarakat dunia. Sebaliknya, Putinlah yang akan meneror para teroris.

Sebagai orang yang bekerja di media dan tahu betul bahwa media tempat saya bekerja dibaca oleh banyak orang penggemar presiden Rusia di Indonesia, dengan membaca kutipan pembaca tersebut, saya jelas ingin membuat konten sendiri (terkait kutipan tadi) untuk dipublikasikan di akun-akun media sosial RBTH Indonesia. Saya yakin bahwa dengan konten yang dikemas dengan menarik (perpaduan foto yang bagus dan divariasikan dengan pemilihan font dan terjemahan yang bagus) konten ini akan menarik banyak perhatian followers RBTH Indonesia. Sebagian dari followers ini tentu akan membagikan konten tersebut di halaman Facebook mereka masing, sehingga akan meningkatkan engagement halaman Facebook RBTH Indonesia. Selain itu, tentunya konten menarik yang dibagikan secara masif oleh orang-orang pasti akan menarik followers baru untuk me-like halaman Facebook RBTH Indonesia. Ini suatu proses yang lazim.

Lantas, apa yang saya lakukan? Apakah saya langsung mencari foto Putin dan "bersilat Photoshop" untuk membuat konten tersebut dan segera memublikasikannya di akun-akun media sosial RBTH Indonesia? Tidak. Bagaimanapun juga, saya harus mengecek kembali dari mana cuplikan layar tadi diambil. Saya harus mengecek kembali siapakah sumber yang pertama kali memublikasikan kata-kata itu? Saya harus mengecek kembali benarkan Putin mengatakan hal tersebut? Inilah sebagian dari profesionalitas profesi jurnalisme. Inilah disiplin verifikasi. Siapa pun yang bekerja di industri jurnalisme kini harus memiliki "sikap skeptis" terhadap berbagai konten yang disebarluaskan di dunia maya.

Bermula dari "Kicauan" Jurnalis

Hasil riset sederhana saya membawa saya ke situs barstoolsports.com. Di situs inilah saya kemudian menemukan sumber asli yang pertama kali memublikasikan kutipan Putin tadi. Dia adalah Remi Maalouf, seorang jurnalis, pembawa berita (news anchor) di Russia Today atau yang lebih dikenal sebagai RT.

Tweet ini telah dihapus Remi.
Di akun Twitter Remi, saya melihat bahwa si jurnalis memiliki lebih dari 13 ribu followers. Tweet-nya ada lebih dari dua ribu, sedangkan yang menarik, akun Remi terverivikasi oleh Twitter. Artinya, Remi jelas bukanlah sembarang jurnalis. Dia punya kredibilitas yang tinggi sebagai jurnalis. Saya yakin, Twitter tidak akan sembarangan memberikan simbol "verified account" pada sembarang orang. Masalahnya, apa hal itu cukup menjadi dasar bahwa kutipan tersebut memang berasal dari Putin? Pertama, kita sudah dapatkan dari mana cuplikan layar tadi diambil. Checked. Kedua, kita dapatkan siapakah sumber yang pertama kali memublikasikan kata-kata itu. Checked. Ketiga, apakah Putin benar-benar mengatakan hal tersebut? Ini belum diketahui.

Kalau saya puas hanya sampai pertanyaan kedua tadi, dengan "asumsi" bahwa si jurnalis ini adalah jurnalis yang tidak mungkin mempertaruhkan nama baiknya (misalnya) dan pasti berhati-hati dalam berkicau di dunia maya, tentunya saya akan segera publikasikan konten pribadi saya. Sayangnya, hal ini dilakukan oleh Kompas.com.

Kemarin, Kompas.com memublikasikan artikel dengan judul "Putin: Memaafkan Teroris Itu Urusan Tuhan, tetapi Mengirim Mereka ke Tuhan Terserah Saya". Dalam artikel tersebut ditulis:
Seorang pembawa acara Russia Today berkicau di akun Twitter miliknya mengenai retorika Putin.

"Memaafkan atau tidak mereka (teroris) itu urusan Tuhan, tetapi mengirim mereka ke Tuhan itu terserah saya." 
Dalam hal ini, apakah Kompas.com memberitakan fakta? Ya, Kompas.com tetap mengabarkan fakta. Fakta bahwa pernyataan tersebut dikicaukan oleh seorang jurnalis RT. Ini fakta. Namun, di jurnalistik, masalahnya tidak sampai situ. Lantas, apakah informasi tersebut akurat? Ini yang belum jelas. Apakah Putin benar-benar mengatakan hal tersebut? Kapan? Di mana?

Cuplikan layar berita yang dipublikasikan Kompas.com.
Terlebih lagi, Kompas.com memuat judul yang seolah-olah memang Putinlah yang mengucapkan perkataan tersebut. Lain ceritanya, jika (misalnya) judulnya dibuat: "Jurnalis Rusia Kicaukan Retorika Putin Kecam Terorisme". Dari judul tersebut, kita mengedepankan fakta bahwa kutipan tersebut dikicaukan oleh seorang jurnalis Rusia, bukan sang presiden (karena belum terungkap keakuratannya). Di sini, tentu saya sangat menyayangkan "keterburu-buruan" media sekelas Kompas dalam memberitakan sesuatu tanpa mengecek apakah hal tersebut benar-benar akurat. Belum lagi, foto yang diambil sama persis dengan foto yang di-tweet Remi. Masalah berikutnya, Kompas.com mencantumkan photo credit gambar tersebut berasal dari Russia Today. Padahal, hanya karena Remi bekerja di RT, bukan berarti foto yang dia publikasikan di media sosial milik RT.

Cek ke Moskow

Demi mendapatkan jawaban pertanyaan ketiga, terkait apakah pernyataan tersebut benar-benar disampaikan Putin, saya mencoba segala cara untuk mencari keakuratan tersebut di berbagai sumber di dunia maya. Dari mesin pencari Google hingga mesin pencari Rusia, Yandeks, saya masukkan berbagai kata kunci yang mungkin bisa membawa saya ke sumber kredibel yang menyatakan bahwa Putin memang pernah mengatakan hal tersebut.

Anehnya, tak ada satu media besar pun, baik di Rusia maupun di dunia, yang memuat berita, yang mengutip pernyataan tersebut. Saya cari baik dalam bahasa Inggris maupun bahasa Rusia. Hasilnya nol. Di sini, saya mulai curiga, bahwa kutipan tersebut palsu. Saya pun mengoordinasikan dengan tim redaksi RBTH Indonesia untuk memverifikasi apakah pernyataan tersebut benar-benar dinyatakan Putin. Editor eksekutif saya pun kirim surat ke seluruh tim di Moskow untuk memastikan apakah Putin pernah menyatakan hal tersebut. Tim Rusia saya juga mencari di berbagai media di Rusia, dan hasilnya nihil. Artinya pernyataan tersebut: palsu. Jelas, saya tidak jadi memublikasikan konten tersebut di dunia maya karena tidak ada keakuratan dan saya tidak mau mempertaruhkan nama baik RBTH Indonesia.

Tak lama kemudian saya ketahui bahwa kata-kata tersebut merupakan modifikasi dari sebuah kutipan dalam adegan film "Man of Fire" (2004). Di film itu ada satu adegan yang menyebutkan, "Forgiveness is between them and God. It's my job to arrange the meeting." Asumsi saya, memang ada orang-orang tertentu yang sekadar "iseng" menyisipkan dan memodifikasi kata-kata tersebut sehingga seolah-olah diucapkan oleh Putin. Mungkin, orang itu kagum dengan sosok Putin (dan memang ada banyak sekali orang di dunia ini yang mengagumi sosok Presiden Putin).

Diakui Salah

Pagi ini, seorang kolega di RBTH Indonesia memberi kabar terkait kicauan Remi kemarin. Ternyata, Remi mengaku salah mengutip, dan tweet yang dia kicaukan kemarin telah terhapus. Untungnya, saya kemarin sempat "menyelamatkan" konten tersebut (gambar di atas) sebagai "barang bukti" walaupun pada awalnya tak ada niat untuk menuli artikel semacam ini.

Remi meminta maaf pada publik melalui Twitter-nya. Ia mengatakan (dan mengakui) bahwa media sosial sangatlah berbahaya. Ternyata, ia mengambil kutipan tersebut dari Facebook, dan kutipan itu tidak benar.

Sekarang, di sini kita lihat bahwa betapa pentingnya menjalankan disiplin verifikasi dan betapa bahayanya mengutip sembarang sumber dari media sosial. Tak peduli jika orang yang menyebarkan itu adalah sesosok figur ternama atau dia punya simbol "verified account" di samping foto profilnya, ketika hal itu menyangkut profesionalitas jurnalisme, maka disiplin verifikasi tetap harus dijalankan. Atau hanya karena dia seorang jurnalis "bule", lantas sudah pasti benar. Saya selalu ingat perkataan dosen-dosen jurnalisme saya untuk tidak pernah percaya pada satu sumber. Cek, cek, dan cek.

Halaman akun Twitter Remi.
Sayangnya, saya memperhatikan dunia jurnalisme di dalam negeri sering kali tak lagi memperhatikan disiplin verifikasi ini. Contoh di Kompas.com tadi hanya contoh kecil dari banyak contoh lainnya yang kerap saya temukan di dunia maya. Fakta belum tentu akurat. Yang seharusnya dikedepankan para jurnalis adalah keakuratan. Seperti contoh di atas, Remi men-tweet pernyataan Putin tadi adalah fakta, tapi apakah isinya akurat?

Kini jurnalis kerap menjadikan media sosial sebagai sumber media. Memang, media sosial memiliki banyak keuntungan bagi profesi jurnalis. Media sosial memberikan banyak informasi kepada jurnalis, bahkan kita bisa menganalisis respon masyarakat dari media sosial. Media sosial memang bisa menjadi "jembatan" komunikasi antara para pemangku kepentingan, pejabat, dan figur atau tokoh masyarakat ke publik. Di Rusia, sering kali kutipan-kutipan pejabat diambil dari akun media sosialnya. Tentunya, hal ini tidak masalah, selama hal tersebut memang benar-benar dipublikasikan langsung oleh orang yang bersangkutan dan si media memublikasikan kutipan tersebut dengan tepat.

Sementara, jika kutipan yang diambil dari sumber yang tidak jelas, atau bahkan dari pihak kedua sekalipun, si jurnalis harus "curiga", tidak boleh langsung percaya dan mengutip pernyataan tersebut. Cek, cek, dan cek. Kesalahan penyebaran informasi sangatlah fatal. Tak hanya fatal bagi si jurnalis dan si media, tapi fatal bagi publik dan juga orang yang kata-katanya dikutip tersebut. Akibatnya, tak hanya bisa menimbulkan kerancuan di masyarakat, tapi percayalah bisa lebih parah dari itu.


Updates


Hasil monitoring saya pagi ini, 19 November 2015, berbagai media besar, temasuk Fox News, kini membahas "kelalaian" Remi dalam "menggegerkan" dunia maya.

Apa yang dilakukan Remi ternyata berakibat pada citranya sebagai jurnalis, dan juga media tempat ia bekerja, Russia Today.

Terkait perkataan Putin mengenai terorisme, ia memang pernah berkata tajam. Pada tahun 1999, Putin (yang saat itu menjabat sebagai perdana menteri), sebagaimana yang dipublikasikan The Moscow Times, mengatakan: "We are going to pursue terrorists everywhere. If they are in the airport, we will pursue them in the airport. And if we capture them in the toilet, then we will waste them in the outhouse. … The issue has been resolved once and for all."

Artikel ini juga dipublikasikan di Selasar.com.

Penulis adalah web editor di Russia Beyond the Headlines Indonesia (RBTH Indonesia). Baca artikel lainnya mengenai hubungan Rusia dan Indonesia. >>>

   Add Friend

1 komentar :

Posting Komentar

Silakan tulis opini atau komentarmu.