Welcome to My World!

Welcome visitors! Please enjoy my site and I hope you can get many useful information. If you wish, you may contact me through Facebook, Twitter, or any other social media that I linked on the menu bar above. Thank you.

Die Poskarten

This is my another blog: Die Poskarten. This blog will show you all my postcards collection. If you want to swap a postcard, please don't hesitate to contact me from the menu bar above.

Bonjour à Tous !

"Bonjour à Tous !"is my Tumblr site. Please take a look on it and maybe you can find some funny contents that you will love. You can also follow me on Tumblr to get my updates on the site.

Please Do Not Copy

You are welcome to link to my site and use my resources in your classroom, but please respect my hardwork and do not copy my page or files and add them to your website. Thank you.

Russia Beyond the Headlines in Bahasa Indonesia

Russia Beyond the Headlines, your guide to Russia, a diverse and complex country cannot be understood in the context of stereotypes. Now available in Bahasa Indonesia!

13 Desember 2015

Berpetualang dengan Bus di Krimea, Kenapa Tidak?

Bus dalam kota di Simferopol, Krimea.
Transportasi umum di Krimea terdiri dari bus, bus listrik (trolleybus), taksi, dan kereta api. Dari keempat jenis transportasi publik tersebut, bus adalah yang paling nyaman digunakan untuk bepergian ke berbagai tempat dan kota di seluruh Krimea. Namun, naik bus bisa menjadi hal yang memusingkan bagi turis Indonesia

Pada September lalu, saya berkesempatan mengunjungi Krimea selama dua minggu. Selama dua minggu di Krimea, saya mendapatkan begitu banyak pengalaman unik, terutama saat naik bus. Transportasi publik ini saya anggap sebagai pilihan yang paling baik untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya di dalam kota, atau bahkan dari satu kota ke kota lainnya.

Namun demikian, bagi turis WNI seperti saya, naik bus bisa menjadi masalah tersendiri. Misalnya, bagaimana cara membeli tiket di loket? Apa yang harus dikatakan? Bagaimana cara mengatakan ke sopir bus jika kita ingin turun? Bagaimana menanyakan apakah bus yang kita naiki melewati objek wisata yang hendak kita kunjungi?

Pertanyaan-pertanyaan sederhana dan penting seperti itu bisa menjadi masalah ketika kita berwisata seorang diri dan tak menguasai bahasa Rusia. Kali ini, saya akan berbagi pengalaman agar jika suatu hari Anda pergi ke Krimea dan naik bus, Anda bisa dengan mudah dan percaya diri bergonta-ganti bus bak wisatawan Rusia.

Bus dalam Kota

Bus dalam kota di Krimea biasanya bewarna kuning atau putih. Sama seperti di Indonesia, bus-bus ini juga ditandai dengan nomor dan keterangan jalur mana saja yang dilewati. Namun, tentu saja, seluruh informasi mengenai jalur atau tempat yang dilewati ditulis dalam huruf Kiril.

Bus dalam kota di Simferopol biasanya bewarna kuning atau putih.
Bagaimana naik dan turun bus di Krimea? Pada dasarnya, warga Krimea terbiasa naik dan turun di halte bus. Memang, sesekali ada juga yang naik dan turun di luar halte, tapi hampir sebagian besar sopir bus akan dengan sendirinya berhenti di setiap halte, kecuali jika tidak terlihat ada calon penumpang di halte tersebut dan tidak ada penumpang di dalam bus yang minta berhenti.

Saat berada di dalam bus, Anda harus membayar ongkos sesuai dengan tarif bus. Tarif bus di Krimea sangat murah. Tarif bus dalam kota di Krimea bervariasi, antara 10 hingga 12 rubel (sekitar 2.000 hingga 2.500 rupiah) untuk sekali jalan. Di Simferopol, ibu kota Krimea, tarif bus dalam kota hanya 10 rubel saja. Sementara, tarif bus listrik hanya tujuh rubel (sekitar 1.400 rupiah) saja.

Langkah paling mudah untuk mengetahui berapa tarif bus tersebut adalah dengan melihat berapa uang yang dikeluarkan penumpang lainnya. Hal lainnya, biasanya di belakang kursi sopir terdapat tulisan “стоимость” (stoimost, ‘tarif’).

Anda bisa langsung berikan Anda ke sopir atau meletakkannya di tempat yang tersedia di samping sopir. Jika kondisi bus penuh dan Anda berada di bagian belakang, Anda bisa memberikan uang Anda ke penumpang di depan Anda sambil mengatakan, “Пожалуйста,” (pozhaluysta, ‘tolong’) dan tak lupa mengatakan, “Спасибо,” (spasibo, ‘terima kasih’). Penumpang yang Anda berikan uang tersebut Akan mengoper uang Anda ke penumpang di depannya, dan begitu seterusnya sampai uang itu sampai ke tangan sopir. Jika Anda berada di belakang dan tak membawa uang receh, tak perlu khawatir. Para penumpang juga akan “bekerja sama” mengoper uang kembalian Anda dari tangan sopir hingga ke tangan Anda.

Lalu, apa yang harus kita katakan untuk menghentikan laju bus dan berhenti di halte? Anda cukup mengatakan, “На остановке!” (na ostonovkie, ‘di [tempat] pemberhentian/halte’). Jika Anda berada di belakang dan tidak memungkinkan untuk maju ke pintu depan, tentu Anda perlu sedikit berteriak.

Zh/D Vokzal dan Selpo

Ada dua tempat yang setidaknya bisa menjadi acuan Anda selama di Krimea, yaitu “Ж/Д вокзал” (Zh/D vokzal, dibaca “zhede vakzal”) dan “Сельпо” (Selpo). Zh/D vokzal adalah terminal bus, sedangkan Selpo adalah semacam pasar swalayan besar yang (biasanya) terletak di pusat kota. Di Simferopol, ibu kota Krimea, hampir seluruh bus dalam kota melewati Selpo dan mengakhiri perjalanannya di Zh/D vokzal. Selain itu, hampir seluruh bus yang melewati dua tempat ini pasti akan menuliskan “Ж/Д вокзал” (atau biasanya ditulis “Ж/Д” saja) dan “Сельпо” di kaca busnya.

Thank you #Crimea, and especially #Simferopol, for these two weeks and all the memories. Till we meet again.

Foto kiriman Fauzan Al-Rasyid (@fauzanalrasyid) pada


Tempat lainnya yang juga bisa menjadi acuan adalah “Центральный рынок” (tsentralny rynok, ‘pasar sentral’). Namun, biasanya tak semua bus melewati pasar sentral. Hanya saja, pasar ini sangat besar dan bisa juga dijadikan salah satu acuan saat bepergian.

Dengan mengingat ketiga lokasi tersebut, Anda akan jadi lebih mudah bepergian. Selain itu, jika Anda bisa mendapatkan penginapan di dekat ketiga lokasi tersebut, itu pun akan semakin memudahkan Anda selama berada di Krimea. Jika Anda sedang dalam perjalanan kembali ke hotel dan kebetulan menginap di sekitar ketiga lokasi tersebut, Anda bisa dengan mudah bertanya kepada sopir atau penumpang bus, “Это на Ж/Д?” (eto na Zh/D? ‘[bus] ini ke Zh/D?’), “Это на Сельпо?” (eto na Selpo? ‘[bus] ini ke Selpo?’), atau “Это на центральный рынок?” (eto na tsentralny rynok? ‘[bus] ini ke pasar sentral?’).

Bus Antarkota

Tentunya, Anda tidak akan “berdiam diri” di satu kota saja, atau katakanlah, hanya di ibu kota saja. Anda mungkin mau pergi ke tempat lain, seperti Sudak, Yalta, Bakhchisaray, atau bahkan kota pahlawan Sevastopol. Untuk pergi ke kota-kota lain di Krimea, Anda bisa naik bus antarkota, bus listrik, atau kereta api. Namun, saya tetap merekomendasikan Anda untuk naik bus antarkota.

Bus-bus antarkota di Zh/D vokzal kota Simferopol.
Tarif bus antarkota bervariasi, tergantung dari jaraknya. Selama di Krimea, saya pergi (dari Simferopol) ke Sudak, Yalta, Bakhchisaray, Balaklava, dan Sevastopol. Harga tiket bus bervariasi antara 50 hingga 170 rubel (sekitar 10 ribu hingga 33 ribu rupiah).

Di Simferopol, hampir semua bus antarkota berangkat dan berhenti di Zh/D vokzal. Jadi, Anda bisa dengan mudah pergi ke Zh/D vokzal dan membeli tiket bus di loket di sana. Namun, agar lebih nyaman, Anda bisa terlbih dulu memastikan jadwal keberangkatan dan kedatangan bus di situs jadwal bus Yandex Raspisaniya.

Screenshoot hasil pencarian jadwal keberangkatan bus dari Simferopol ke Sevastopol untuk 14 Desember 2015 di situs Yandex Raspisaniya.
Di situs tersebut, Anda bisa melihat secara rinci jadwal seluruh keberangkatan bus antarkota, kereta api, dan bahkan pesawat. Berdasarkan pengalaman saya, jadwal di situs tersebut cukup akurat. Anda hanya perlu mengetikkan kota keberangkatan dari kolom “Откуда” (otkuda, ‘dari mana), kemudian kota tujuan di kolom “Куда” (kuda, ‘ke mana’), dan hari keberangkatan di kolom “Когда” (kogda, ‘kapan’). Setelah itu klik tombol Найти (nayti, cari) untuk menampilkan hasil pencarian.
Saat berada di loket, tantangan selanjutnya adalah membeli tiket dan menjelaskan hendak ke mana dan berapa tiket yang diminta. Untuk mengatakan hal ini, pertama Anda setidaknya harus hafal cara mangucapkan angka satu sampai lima dalam bahasa Rusia. Namun, jika Anda hanya seorang diri, cukup Anda menghafal cara menyebut “satu” bahasa Rusia.

Katakanlah, Anda mau pergi ke Sudak untuk satu orang. Di loket, Anda harus mengatakan, “Один билет до Судака / до Севастополя / до Ялты / до Бахчисарая, пожалуйста.” (odin bilyet do Sudaka / do Sevastopolya / do Yalty / do Bakhchisaraya, pozhaluysta, ‘tolong satu tiket ke Sudak / Sevastopol / Yalta / Bakhchisaray’). Atau, jika Anda berdua, katakanlah, “Два билета до до Судака / до Севастополя / до Ялты / до Бахчисарая, пожалуйста,” (dva bilyeta do Sudaka / do Sevastopolya / do Yalty / do Bakhchisaraya, pozhaluysta, ‘tolong dua tiket ke Sudak / Sevastopol / Yalta / Bakhchisaray’).

Kemudian, si kasir mungkin akan bertanya, apakah Anda butuh bagasi? Dalam bahasa Rusia, dia biasanya akan bertanya, “Багаж нужен?” (bagazh nuzhen? ‘butuh bagasi?’). Jika iya, Anda bisa bilang “да” (da, ‘iya’), dan jika tidak perlu, cukup katakan “нет” (nyet, ‘tidak’). Setelah itu, si kasir akan memberikan berapa harga tiket yang perlu dibayar. Di sinilah “kesulitan” sebenarnya. Ketika dia menyebutkan jumlah uang yang harus dibayar dalam bahasa Rusia, mungkin Anda merasa sulit mendengar berapa nominal yang ia sebutkan. Untuk mengatasinya, Anda bisa memberikan si kasir kertas untuk menulis atau sodorkan telepon genggam Anda agar ia mengetikkan jumlahnya di layar.

Menemukan Bus

Setelah berhasil mendapatkan tiket, menemukan bus adalah cerita lain. Saat pertama kali saya harus mencari bus, saya cukup kebingungan. Namun ternyata, segala informasi di bus sudah tertera di tiket. Dalam hal, jika Anda bisa membaca hufuf Kiril, maka itu akan sangat membantu Anda.

Tiket bus antarkota dari Simferopol ke Sudak seharga 163,50 rubel (sekitar 32.200 rupiah). Klik untuk memperbesar gambar.
Ada beberapa hal yang perlu Anda perhatikan di tiket Anda, yaitu rute, nama bus, tempat duduk, jam keberangkatan, dan jam tiba di tujuan. Pertama, mata Anda harus tertuju pada tulisan “автобус” (avtobus, ‘bus’) di tiket. Di situ, Anda akan melihat nama dan pelat nomor bus Anda. Setelah itu, Anda bisa mencari bus tersebut di sekitar terminal. Biasanya sang sopir akan memanggil-manggil calon penumpangnya dengan menyebutkan tujuan akhir bus tersebut. Hal ini memang hampir sama seperti di Indonesia. Begitu Anda menemukan bus Anda, lihatlah kembali tiket Anda untuk mencari tahu di mana Anda duduk. Perhatikan kembali tiket, dan lihatlah tulisan “место” (mesto, ‘tempat’). Pada dasarnya, dua hal tadi adalah yang paling penting. Namun, jika Anda ingin mengetahui informasi lainnya di tiket tersebut, ada tulisan “отправление” (otpravlenie) yang berarti jam berangkat, “прибытие” (pribytie) yang berarti waktu tiba di tujuan, “маршрут” (marshrut) atau rute, “от” (ot) berarti ‘dari’, dan “до” (do) berarti ‘ke’ atau ‘sampai’.

Itulah semua yang Anda butuhkan agar sukses bepergian dengan bus di Krimea. Selamat mencoba!

Penulis adalah web editor di Russia Beyond the Headlines Indonesia (RBTH Indonesia). Baca artikel lainnya mengenai hubungan Rusia dan Indonesia. >>>

   Add Friend

11 Desember 2015

Perjalanan 200 Artikel: Saksi Pendewasaan dan Perubahan Pola Pikir

Lapangan Revolusi, Moskow, Rusia, 2015.
Setiap tahun, biasanya kita membuat semacam resolusi atau daftar "mimpi" yang ingin kita capai di tahun yang akan datang. Desember tahun lalu, saya ingat salah satu resolusi yang benar-benar saya niatkan adalah menulis di blog sebanyak tiga kali dalam sebulan, atau minimal setiap bulan harus ada setidaknya satu tulisan yang saya publikasikan.

Entahlah, mungkin bagi sebagian orang resolusi saya ini agak "kurang keren", tapi semakin lama saya semakin sadar bahwa menulis memang passion terbesar saya. Selain itu, saya punya keyakinan bahwa untuk mengubah dunia, atau ya... minimal Indonesia, bisa dimulai dengan menulis. Karena itu, saya "memaksakan" diri saya agar terus menulis, dengan harapan, mungkin ada sedikit orang di luar sana yang bisa terinspirasi dengan ide atau gagasan yang saya tulis di blog ini.

Kini, 2015 hampir usai. Pertanyaannya, apakah target saya tercapai? Well, jangankan tiga tulisan dalam sebulan, menulis sebulan sekali pun belum tentu. Namun demikian, jika dirata-rata, memang selama 2015 ini, bisa dikatakan bahwa saya menulis lebih dari sekali dalam sebulan. Jumlah tulisan saya di blog ini selama 2015 adalah sebanyak 20 tulisan, tapi itu masih lebih sedikit dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang berjumlah 22 tulisan.

Namun begitu, saya tetap senang bahwa tulisan kali ini merupakan tulisan ke-200 saya di fauzanalrasyid.com. Blog ini saya buat di 2009, dan barulah enam tahun kemudian saya berhasil memublikasikan 200 tulisan di sini.

Bagi saya, blog ini menjadi semacam "portofolio digital" atas perkembangan pola pikir saya. Blog ini menjadi "saksi" bagaimana perubahan cara pandang saya dalam melihat atau membahas suatu isu. Pertama kali saya punya blog, yaitu di tahun 2006. Saat itu, blog saya terintegrasi dengan Friendster. Seiring dengan menurunnya popularitas Friendster (dan orang-orang "hijrah" ke Facebook), saya pun sempat beberapa kali pindah domain blog, sebelum akhirnya menetap di sini.

Apa Saja yang Ditulis?

Ada banyak topik dan tema, dan di beberapa tahun pertama tulisan saya (karena saat itu masih kuliah) lebih banyak mengenai "cerita" soal organisasi, konflik, kenangan-kenangan SMA, sedikit romansa, dan juga kumpulan tugas essai dan makalah ilmiah saya selama di kampus. Namun, setidaknya dalam tiga tahun terakhir, saya mulai fokus menulis ke hal-hal yang berhubungan dengan media, politik Indonesia, dan isu-isu terkini yang memang menarik perhatian saya.

Dan berikut ini adalah sepuluh artikel (yang saya anggap) terbaik selama 2009 hingga 2015 di fauzanalrasyid.com—pastinya bukan hal mudah untuk memilih 10 dari 200.

1. Indonesia oh Indonesia

Artikel ini adalah tugas essai yang harus saya kerjakan pada OKK (Orientasi Kehidupan Kampus) UI 2008. Essai yang berjudul "Indonesia Oh Indonesia" ini ternyata (dan tanpa saya duga) masuk ke dalam 50 karya terbaik OKK UI 2008.

Foto kiriman Fauzan Al-Rasyid (@fauzanalrasyid) pada


2. Ulasan Buku Kontroversial Irshad Manji

Nama Irshad Manji sempat jadi perbincangan hangat di 2012. Saat itu di Jakarta, diskusi yang menghadirkan sang penulis buku "Allah, Liberty, and Love" ini menuai kontroversi dan dibatalkan (atau tepatnya dibubarkan) oleh ormas Islam dengan tudingan bahwa di dalam buku tersebut, sang penulis menyebarkan gaya hidup gay dan lesbian. Benarkah begitu? Saya cari bukunya, baca dari awal sampai akhir, dan membuat ulasannya.

3. Untukmu Anak Indonesia

Negaramu membutuhkan kamu! Spesial untuk semua insan pemuda bangsa, saya ingin kita tak hilang harapan dengan negeri ini, sekalipun memang sulit rasanya untuk tetap menyalakan lilin di tengah "kegelapan" yang begitu pekat. Kita bahkan tak bisa melihat, mana sumbu dan mana apinya. Namun, satu hal yang pasti, negara ini butuh kita—kamu, dan saya.

4. Last Night! #EgyptianInterview Part 2

Di Indonesia, orang-orang memang suka latah, atau katakanlah, suka ikut arus tanpa benar-benar paham masalah, atau minimal mempelajari masalah itu sebelum teriak ini-itu. Demonstrasi besar-besaran di Mesir pada 2013 berujung pada penggulingan Presiden Morsi. Di Indonesia, ada banyak sekali orang yang mendukung Morsi dan menganggap dia dizalimi. Saya penasaran, dan saya tanya langsung apa pendapat warga Mesir terhadap Morsi. Benarkah Morsi seperti apa yang "diyakini" orang-orang Indonesia saat itu?

5. Perjalanan Menemukan Passion yang (Mendekati) Sempurna

Pada dasarnya, tidak ada yang sempurna. Namun, setidaknya, ada suatu titik di mana kita merasa, "God, this is perfect!" Ada suatu titik di mana kita akan merasa hidup kita (akhirnya) sangat sempurna karena apa yang kita lakukan atau kita kerjakan benar-benar dari hati kita. Namun, memang untuk mencapai titik ini tidak pernah mudah.

6. Ask.fm: Semua Bisa Jadi Selebritas

Selama 2014 lalu, Ask.fm menjadi media sosial yang sangat populerdi kalangan remaja-remaja Indonesia masa kini. Popularnya Ask.fm di Indonesia seakan semakin membuktikan bahwa orang Indonesia memang punya rasa ingin tahu yang begitu besar (atau kita sebut saja, kepo) dan secara bersamaan sangat senang ditanya.

7. Ahok dan Provokasi di Media Sosial

Mengapa negara kita begitu lama terbelenggu oleh penjajahan kolonial? Jawabannya mudah saja. Karena memang dari dulu, karakter maysarakat kita mudah diprovokasi. Karena itu, Belanda dulu menerapkan taktik politik "Devide et Impera" atau yang bisa disebut sebagai politik adu domba. Ternyata, dari dulu, kita memang "senang" dan mudah diadu domba. Kita mudah diprovokasi.

8. Penyerangan Charlie Hebdo, Haruskah Terjadi?

Salah peristiwa yang menggegerkan awal tahun 2015. Tanggal 7 Januari 2015, dunia kembali dikejutkan dengan aksi terorisme yang (lagi-lagi) melibatkan nama Islam. Kantor pusat majalah satir Charlie Hebdo di Paris, Prancis, diserang. Salah seorang editor, Stephane Charbonnier, ikut terbunuh dalam aksi bersenjata ini. Mengapa hal semacam ini harus terjadi? Mengapa (lagi-lagi) harus Islam yang jadi "korban"?

9. Ketika Terlalu Banyak Kebencian (dan Kebodohan) di Negeri Ini

udah terlalu banyak kebencian di negeri ini. Janganlah kita tambah dengan kebodohan pula. Mau jadi apa negeri kita (yang katanya kita cintai ini) nanti? Mari kita mulai cerdas dalam memilah-milih konten yang akan kita sebarkan di media sosial. Saya mungkin bisa paham ada semacam "dorongan" tersendiri untuk berperan aktif dalam menyebarkan isu-isu penting, tapi sekali lagi, sebaiknya kita luangkan sedikit waktu untuk memahami isu itu terlebih dahulu.

10. Perang Dunia II: Apakah Dunia Berutang pada Soviet?

Bagi kita di Indonesia, Perang Dunia II adalah suatu perang yang terjadi jauh di luar sana dan kurang berdampak signifikan bagi kita. Anggapan ini bisa jadi muncul karena kita merasa bahwa Indonesia saat itu sama sekali tidak angkat senjata dan ikut berperang. Namun, keberhasilan bangsa Indonesia untuk bisa memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945, tak lepas dari Perang Dunia II yang terjadi "di luar" sana. Lalu, apa hubungannya dengan Komunis Soviet?

*  *  *

Pada akhirnya, saya ucapkan terima kasih kepada seluruh pembaca, orang-orang yang mendukung dan mengkritik tulisan saya selama enam tahun terakhir ini. Saya tidak menulis selama enam tahun ini, hingga akhirnya bisa memublikasikan tulisan yang ke-200 ini, tanpa adanya timbal balik dari orang-orang yang membaca blog ini.

Segala pemikiran saya tumbuh dan berkembang melalui blog ini. Mental saya pun "terlatih" salah satunya karena blog ini. "Bukan Fauzan namanya kalau enggak bikin sesuatu yang kontroversi," begitu kata beberapa orang. Ya, saya pikir, selama hal yang dianggap kontroversial itu melatih atau mengajak kita untuk beprikir lebih kritis, kenapa tidak?

Sekali lagi, terima kasih untuk semua yang telah membaca, mengomentari, mengkritisi, dan membagikan tulisan-tulisan saya selama ini. Saya sangat menghargai itu semua, dan semoga di 2016 mendatang, teman-teman semua tetap bisa mendapatkan wawasan atau ide baru melalui tulisan-tulisan yang saya publikasikan di sini. Terima kasih!
Video kiriman Fauzan Al-Rasyid (@fauzanalrasyid) pada

Salam,

Fauzan Al-Rasyid

   Add Friend

Tiga Hal Esensial yang Perlu Disiapkan Sebelum Berwisata ke Krimea

“Ж/Д вокзал” (Zh/D vokzal) di Simferopol, Krimea.
Tahun 2016 hanya tinggal sejauh hitungan minggu, dan jadwal libur panjang di tahun depan telah banyak dirilis dan disebarkan di media-media sosial. Apakah Rusia termasuk ke dalam salah satu destinasi wisata Anda di 2016 mendatang? Jika iya, 2016 mendatang adalah saat yang tepat untuk menguji nyali Anda, baik sebagai turis maupun sebagai petualang, di salah satu wilayah yang sempat menjadi topik hangat selama 2014 lalu: Krimea. Amankah? Tentu saja!

Pada musim gugur lalu, saya berkesempatan mengunjungi semenanjung yang sempat menjadi “titik panas” antara Rusia dan Ukraina pada 2014 lalu. Kini, Krimea telah menjadi bagian dari Rusia. Artinya, Anda hanya perlu visa Rusia untuk pergi ke Krimea. Jika pada 2016 mendatang Anda berencana pergi ke Rusia, sempatkanlah berkunjung ke semenanjung yang menyimpan begitu banyak keindahan alam dan budaya ini. Anda tak akan menyesal.

Saya berada di Krimea selama dua minggu. Bagi saya, itu adalah dua minggu paling berkesan, setidaknya hingga saat ini. Namun demikian, berkunjung seorang diri ke Krimea bagi WNI seperti saya, tentu bisa menimbulkan cukup banyak kebingungan, terutama soal bahasa. Jujur saja, saya belum mahir dalam berbahasa Rusia. Sementara, mayoritas orang-orang di sana hanya berbahasa Rusia, atau katakanlah, mereka lebih nyaman menggunakan bahasa Rusia. Lalu, bagaimana saya bisa “selamat” seorang diri di Krimea dengan segala keterbatasan bahasa, dan bahkan, akses komunikasi?
Foto kiriman Fauzan Al-Rasyid (@fauzanalrasyid) pada

Ada beberapa hal yang perlu Anda persiapkan sebelum berangkat ke Krimea agar perjalanan Anda selama berada di semenanjung tersebut lancar, seperti kemampuan standar berbahasa Rusia, peta atau navigasi, dan informasi transportasi umum. Berikut ini beberapa tips penting jika Anda berencana berwisata ke Krimea.

Bahasa

Bahasa mungkin bisa menjadi salah satu hal penghambat dalam perjalanan Anda ke Krimea. Sejujurnya, saya hampir tak bisa membayangkan bagaimana seorang yang sama sekali “buta” dengan bahasa Rusia bisa “selamat” di sana, walau tentu saja hal itu tetap mungkin dilakukan. Namun, saya bisa katakan bahwa hampir seluruh pramusaji restoran-restoran atau kafe-kafe di Krimea, kasir di pasar swalayan, bank, terminal, atau bahkan bandara, serta petugas informasi dan polisi di sana, tidak berbahasa Inggris. Sementara, hampir segala papan informasi, tiket, menu, harga, dan sebagainya, ditulis dalam huruf Kiril.

Secara pribadi, saya memang tidak menyarankan Anda pergi ke Krimea tanpa pengetahuan bahasa Rusia sama sekali, kecuali Anda bepergian dengan orang yang bisa berbahasa Rusia atau mungkin Anda punya teman di sana. Namun jika Anda berencana pergi seorang diri, saya menyarankan Anda, setidaknya, harus bisa membaca huruf Kiril.

Anda tak perlu mahir dulu dalam bahasa Rusia, baru kemudian pergi ke Krimea. Anda cukup mengetahui kata-kata umum yang mungkin bisa “menyelamatkan” hidup Anda di sana, seperti “сколько?” (skolko? ‘berapa?’), “это где?” (eto gde? ‘ini di mana?’), “это на…?” (eto na…? ‘ini ke…?), “я хочу….” (ya khochu…., ‘saya mau…’.), “это” (eto, ‘ini/itu’), “да” (da, ‘iya’), “нет” (nyet, ‘tidak’), dan “спасибо” (spasibo, ‘terima kasih’).
Foto kiriman Fauzan Al-Rasyid (@fauzanalrasyid) pada

Tentunya, ada banyak kata lainnya yang bisa Anda cari tahu dan catat dari situs-situs belajar bahasa Rusia, bahkan Anda pun bisa mencari tahu lebih lanjut mengenai bahasa Rusia di rubrik Belajar Bahasa Rusia di RBTH Indonesia.

Namun, selama dua minggu saya di Krimea, bukan berarti saya sama sekali tidak menemukan orang Rusia yang bisa bicara bahasa Inggris. Setiap kali saya pindah dari hostel yang satu ke hostel lainnya, saya selalu menemukan turis Rusia yang bisa berbahasa Inggris.

Alat Komunikasi dan Navigasi

Sebelum ke Krimea, saya berada di Moskow selama satu minggu. Di Moskow, saya membeli nomor lokal agar saya bisa berkomunikasi, atau khususnya mengakses internet melalui telepon genggam saya. Pengalaman saya di 2014, saat saya ke Sankt Peterburg, saya harus memastikan apakah nomor telepon yang saya beli di Moskow sata itu bisa digunakan di Piter (sebutan warga lokal bagi kota Sankt Peterburg). Ini dikarenakan, sistem komunikasi di Rusia tidak sama seperti di Indonesia. Di Indonesia, satu nomor dari salah satu penyedia jasa layanan telekomunikasi seluler dapat digunakan dari Sabang sampai Merauke, dengan segala fitur dan layanannya. Namun, hal itu tak sama dengan di Rusia. Karena itu, jika Anda ingin membeli nomor lokal, pastikan Anda bertanya apakah nomor tersebut bisa digunakan untuk berkomunikasi dan mengakses internet di daerah tujuan wisata Anda berikutnya.

Saya ingat, saat di Moskow, saya memang menanyakan apakah nomor yang hendak saya beli saat itu bisa digunakan di Krimea. Menurut sang penjual, nomor tersebut bisa digunakan, dan ia benar. Namun, sayangnya saya tidak bertanya lebih spesifik terkait akses internet. Ketika sampai di Krimea, nomor telepon Rusia saya ternyata tidak bisa dipakai untuk mengakses internet. Alhasil, selama dua minggu di Krimea, saya “jauh” dari koneksi internet. Saya hanya bisa bergantung pada koneksi Wi-Fi di hostel-hostel tempat saya menginap, yaitu pada pagi hari sebelum bepergian dan di malam hari saat istirahat.

Lalu, bagaimana saya bepergian dan “selamat” menjelajahi Krimea selama dua minggu tanpa koneksi internet, khususnya untuk mencari lokasi dan navigasi? Saya tentu saja butuh peta. Saat di Moskow saya sudah terlebih dulu mengunduh peta offline Krimea. Aplikasi ini adalah MAPS.ME. Setidaknya, kalau bukan karena aplikasi ini, mungkin perjalanan saya selama di Krimea tidak akan berjalan lancar. Selain bisa menandai berbagai lokasi di peta elektronik ini, MAPS.ME juga menyediakan fitur navigasi. Semua itu dilakukan tanpa koneksi internet, dan keakuratannya cukup tinggi. Aplikasi ini tersedia untuk Andorid, iOS, dan BlackBerry.

Transportasi Umum

Transportasi umum di Krimea terdiri dari bus, bus listrik (trolleybus), taksi, dan kereta api. Ketika saya pertama kali menginjakkan kaki di Krimea dan sama sekali buta arah, satu-satunya transportasi yang paling masuk akal untuk saya naiki agar sampai ke hostel adalah taksi. Namun, tentu saja, harganya sangat mahal.

Taksi di Krimea tidaklah seperti di Indonesia yang bewarna-warni, memiliki logo perusahaan, pelat nomor khusus, sopirnya memiliki tanda pengenal, dan di dalamnya ada argometer. Di Krimea, taksi bisa berupa mobil pribadi, dan Anda harus tawar-menawar terlebih dulu dengan si sopir ketika ingin pergi ke suatu tempat. Jika si calon penumpang tidak bisa berbahasa Rusia, tentunya akan lebih mudah bagi si sopir “memainkan” harga, dan sejujurnya, saya pun tidak bisa berbuat banyak untuk menawar harga. Jika Anda tak setuju dengan tarif yang ditawarkan si sopir maka ia tidak akan memohon-mohon dan menurunkan tarifnya agar kita jadi menggunakan jasa taksinya. Jadi, saya melihat sopir-sopir taksi di Krimea punya posisi tawar yang tinggi.

Alternatif transportasi umum yang paling baik, menurut saya, untuk bepergian di Krimea adalah bus. Tarif bus dalam kota di Krimea bervariasi, antara 10 hingga 12 rubel (sekitar 2.000 hingga 2.500 rupiah) untuk sekali jalan. Di Simferopol, ibu kota Krimea, tarif bus dalam kota hanya 10 rubel saja. Sementara, tarif bus listrik hanya tujuh rubel (sekitar 1.400 rupiah) saja.

Jika Anda mau pergi dari satu kota ke kota lainnya, bus antarkota juga dijadikan pilihan transportasi untuk menuju tujuan Anda. Jika Anda di Simferopol, Anda perlu pergi ke terminal bus atau yang disebut “Ж/Д вокзал” (Zh/D vokzal). Agar lebih nyaman, Anda bisa terlbih dulu memastikan jadwal keberangkatan dan kedatangan bus di situs jadwal bus Yandeks Raspisaniya. Setelah sampai di terminal, Anda tinggal pergi ke loket dan membeli tiket bus atau bus listrik. Bus antarkota di Krimea terbilang cukup baik. Namun yang paling penting, bus-bus di sana berangkat dan tiba tepat waktu.

Jadi, sudah siap berpetualang ke Krimea tahun depan?

Penulis adalah web editor di Russia Beyond the Headlines Indonesia (RBTH Indonesia). Baca artikel lainnya mengenai hubungan Rusia dan Indonesia. >>>

   Add Friend