Welcome to My World!

Welcome visitors! Please enjoy my site and I hope you can get many useful information. If you wish, you may contact me through Facebook, Twitter, or any other social media that I linked on the menu bar above. Thank you.

Die Poskarten

This is my another blog: Die Poskarten. This blog will show you all my postcards collection. If you want to swap a postcard, please don't hesitate to contact me from the menu bar above.

Bonjour à Tous !

"Bonjour à Tous !"is my Tumblr site. Please take a look on it and maybe you can find some funny contents that you will love. You can also follow me on Tumblr to get my updates on the site.

Please Do Not Copy

You are welcome to link to my site and use my resources in your classroom, but please respect my hardwork and do not copy my page or files and add them to your website. Thank you.

Russia Beyond the Headlines in Bahasa Indonesia

Russia Beyond the Headlines, your guide to Russia, a diverse and complex country cannot be understood in the context of stereotypes. Now available in Bahasa Indonesia!

19 Desember 2017

Lima Kebiasaan Baru Sepanjang 2017

Sepanjang tahun ini, gue mencoba memulai dan mengembangkan beberapa kebiasaan. Gue pikir, ketika kita mau mencapai sesuatu — katakanlah sesederhana punya badan yang sehat, kita tentu harus membangun kebiasaan hidup sehat. Artinya apa yang kita mau itu sebetulnya enggak bisa kita dapatkan kalau kita enggak melakukan usaha tertentu secara reguler (yang itu kemudian jadi sebuah kebiasaan). Jadi, gue pikir, ada banyak hal positif yang bisa gue kembangan jadi suatu kebiasaan, dan itu pasti akan bermanfaat buat gue entah saat ini atau di masa depan.

1. Berhenti berkomentar di media sosial

Siapa pun yang mengenal gue sejak lama tahu bahwa gue termasuk “pejuang” media sosial. Dalam arti, partisipasi gue dalam mengemukakan pendapat dan berdebat di media sosial lumayan tinggi. Mulai dari soal politik (terutama politik), sampai isu-isu sosial, agama, dan lain-lain, gue pasti enggak ragu-ragu untuk “bersuara”. Jelas, enggak ada yang salah. Gue pikir, apa yang gue ungkapkan pun tetap diperkuat dengan berbagai fakta. Namun intinya, gue sangat menikmati “keributan” di media sosial.

Itu berubah setidaknya sejak awal tahun ini. Gue merasa itu semua enggak ada gunanya. Gue pikir biar bagaimana pun setiap orang punya opininya masing-masing, dan apa sih sebetulnya yang gue harapkan dengan berusaha meyakinkan orang lain bahwa gue benar? Pengakuan bahwa gue lebih pintar, mungkin?

Padahal, segala keributan itu, pasti memengaruhi kepribadian kita. Segala hal yang kita temukan di media sosial saat ini, segala berita-berita aneh yang enggak jelas asalnya atau sembarang kutip narasumber, kalau kita komentari semua itu pada dasarnya cuma membuang-buang waktu dan tenaga kita. Untuk apa? Kenapa enggak kita manfaatkan waktu “berkoar-koar” itu untuk sesuatu yang lebih bermanfaat: fokus pada kerjaan masing-masing, contohnya.

Jadi, gue pikir, enggak ada manfaatnya lagi berkomentar di media sosial. Sejak awal tahun ini, gue menahan diri untuk enggak berkomentar, terutama soal politik, perang, dan apa pun itu. Ya, kadang gue memang mengomentari soal pemberitaan media, tapi itu karena, pertama, gue anggap itu parah banget sampai gue harus berkomentar, dan kedua, gue tahu betul apa yang gue komentari karena gue merasa paham dan punya ilmunya.

Gue, tentu, tetap jadi social media junkie. Enggak ada jam tanpa cek media sosial karena biar bagaimana pun ini berhubungan dengan pekerjaan gue. Namun yang jelas, gue berhenti “membuat keributan”. Kalau pun ada orang-orang yang tanya pendapat gue tentang suatu isu, gue tentu enggak pernah keberatan untuk berbagi pandangan, tapi itu semua hanya gue kemukakan secara personal pada yang bersangkutan.

Sementara itu, dinding dan linimasa media sosial gue sepanjang tahun ini lebih banyak gue isi dengan sesuatu yang personal tentang diri gue. Gue berbagi foto-foto gue dengan orang-orang yang gue temui, misalnya. Dan ada cerita di balik itu semua, yang mungkin, bisa menginspirasi orang lain. Jadi, daripada ikut “meributkan” hal-hal yang sebetulnya enggak ada gunanya, kenapa enggak berbagi hal-hal yang membahagiakan, hal-hal yang menunjukkan prestasi, atau kisah-kisah yang menginspirasi.

Gue, sejujurnya, lebih suka orang “melihat” gue sebagai orang yang sering foto sama cewek Rusia, misalnya, daripada sebagai orang yang selalu mengkritik keadaan. Serius. Karena kalau orang melihat gue sering berfoto sama cewek Rusia, artinya mereka memperhatikan sesuatu dari gue, mereka melihat dan mungkin penasaran apa sih sebetulnya yang gue kerjakan, atau kenapa sih gue bisa punya banyak teman dari kalangan ekspatriat, misalnya.

Belum lagi, segala hal yang gue bagikan, entah itu di Facebook, Twitter, atau Instagram, pasti gue sertakan dengan cerita di balik itu semua. Menurut gue, itu jauh lebih baik daripada menjadi orang yang dicitrakan sebagai seseorang yang (sok) kritis. Kita kan enggak pernah tahu apa pendapat orang banyak soal kita? Siapa yang tahu bahwa orang-orang di media sosial itu mungkin ada yang enggak suka sama kita? Gue pastinya enggak peduli soal itu, tapi bukankah lebih baik kalau kita bisa membagikan hal-hal yang lebih positif di media sosial?

2. Memanfaatkan media sosial untuk belajar

Ini masih lanjutan dari kebiasaan pertama. Karena gue berusaha membuang kebiasaan berkomentar di media sosial, gue berusaha membangun kebiasaan baru, yaitu memanfaatkan media sosial untuk belajar dan menambah wawasan.

Sampai sekarang, gue masih menganggap Facebook adalah media sosial terbaik yang kita punya saat ini. Dari Facebook ini, gue bisa mendapatkan banyak banget informasi tentang apa pun. Jadi, gue membiasakan diri untuk cari menyempatkan diri setiap harinya, khususnya di setiap waktu luang, untuk cari informasi apa pun di Facebook. Menurut gue, itu platform yang paling nyaman. Tiap orang mungkin beda-beda.

Sementara, untuk berita terkini, gue menggunakan Twitter. Sampai sekarang gue masih setia menggunakan Twitter, dan dari platform itu gue biasanya mendapatkan informasi paling update dan paling cepat tentang peristiwa apa pun.

Namun, intinya adalah, selama gue berkutat dengan laptop, gue selalu menyelingi pekerjaan gue dengan browsing di Facebook. Ada banyak page bagus yang bisa diikuti. Ada juga page yang berisi video-video motivasi yang inspiratif. Jadi, media sosial (yang canggih itu) bisa kita gunakan untuk menambah wawasan kita. Gue bahkan bisa tahu soal konsep kecepatan cahaya dan Teori Relativitas Einstein itu karena video-video dari media sosial.

Belum lagi, gue gabung dengan komunitas-komunitas tertentu di Facebook. Sebagian besar gue memang cuma jadi silent reader, tapi bahwa gue mendapatkan banyak informasi dari mereka, 100 persen iya. Karena itu, gue sendiri sangat merekomendasikan kebiasaan ini kepada siapa pun, supaya setiap hari ada sesuatu yang baru yang bisa kita pelajari. Supaya setiap hari, ada ilmu baru yang bisa kita dapat dan mungkin bisa kita bagi dan bermanfaat buat orang lain.

3. Berbagi informasi

Jangan pelit. Intinya itu. Jadi, setiap informasi apa pun yang gue dapat, yang gue pikir menarik dan relevan, pasti akan gue bagi ke banyak orang. Pada dasarnya, gue percaya dengan hukum timbal balik. Jadi, kalau gue berharap orang lain “bermurah hati” membagikan informasi ke gue, berarti gue dulu yang harus membangun kebiasaan untuk selalu berbagai informasi kepada orang lain.

Mungkin, kalian yang membaca ini termasuk orang-orang yang sering mendapat kiriman tautan-tautan berita atau informasi yang gue bagi di WhatsApp atau LINE. Dan memang, enggak semua orang yang dibagikan informasi itu memberi respons, dan itu sama sekali bukan masalah. Karena ya ... tentu mungkin ada yang merasa informasi itu kurang penting (sekalipun gue pikir itu berguna), tapi yang paling paham tentang kebutuhan informasi si orang itu ya ... orang itu sendiri.

Yang jelas, gue membiasakan diri untuk berbagi. Dan berbagi informasi dan wawasan adalah salah satu hal paling mudah yang bisa kita lakukan kepada orang lain. Menurut gue, itu pun suatu sifat yang baik, terlepas dari orang itu membutuhkan atau enggak. Biar bagaimana pun, gue membangun citra sebagai orang yang selalu berbagi informasi.

Yang dibagi bisa bermacam-macam, mulai dari artikel-artikel yang membahas isu tertentu, sampai peluang beasiswa atau pekerjaan. Gue pikir, setidaknya, orang-orang di dekat gue akan “tertular” dengan kebiasaan gue ini, entah mereka sadari atau enggak — ada beberapa orang yang gue perhatikan juga mulai melakukan kebiasaan yang sama.

4. Belajar bahasa Rusia

Sejak tahun lalu, gue udah berhenti les di Pusat Kebudayaan Rusia. Ya, selain karena kesibukan gue yang semakin padat, guru yang mengajar gue pun mengundurkan diri. Akhirnya, gue harus belajar sendiri (kalau betul-betul mau bisa).

Tapi, gue tetap mau bisa lancar bicara bahasa Rusia. Jadi, walau gue lumayan jarang buka buku pelajaran bahasa Rusia, gue membangun kebiasaan untuk berpikir dalam bahasa Rusia.

Masalahnya, belajar sendiri itu penuh tantangan, penuh godaan (malas), dan penuh berbagai alasan yang membuat kita mau menunda dan menunda. Sementara, walau gue bekerja di perusahaan Rusia, dengan orang Rusia, dan punya banyak teman Rusia (di Jakarta), sebagian besar komunikasi gue dengan mereka menggunakan bahasa Indonesia (karena mereka bisa — tambah lagi satu alasan untuk enggak mempraktikkan bahasa Rusia).

Kita semua, baik secara sadar maupun enggak, pasti suka bicara sendiri dalam pikiran atau hati kita. Yang gue lakukan, gue mencoba mengubah semua yang gue pikirkan itu ke dalam bahasa Rusia. Kalau misalnya gue lagi dalam perjalanan atau di mal, misalnya, gue melatih kosakata gue dengan menyebutkan benda-benda di sekeliling gue dalam bahasa Rusia (di dalam hati). Pastinya, enggak semua benda gue tahu apa bahasa Rusianya, dan di situlah gue bisa cek kamus (di aplikasi), dan sebagainya.

Intinya, gue mencoba untuk menggunakan bahasa Rusia dalam sehari-hari. Katakanlah, gue mau beli bakso. Maka di otak gue, gue akan mengubah kalimat keinginan gue itu ke dalam bahasa Rusia, dan dari situ biasanya akan berkembang, sepeti ... kapan penjualnya datang, atau harganya berapa, atau ada uang di dompet atau enggak. Betul-betul sesuatu yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari. Karena kalau enggak begitu, dijamin pasti lupa. Apa yang sudah dipelajari selama hampir 2,5 tahun, pasti akan menguap begitu saja karena kita sendiri yang memang enggak punya kemauan untuk mengasah kemampuan kita.

5. Minum teh

Ya, serius, minum teh. Ini kan kebiasaan yang bagus (kayak orang Rusia)? Teh dikatakan dapat meningkatkan performa dan daya tahan tubuh kita. Belum lagi, minum teh setiap hari dapat membantu mengurangi risiko serangan jantung. Bahkan, minum teh hitam atau teh herbal bisa menjadi pereda gangguan pencernaan secara alami. Bagus 'kan?

Sebetulnya ini kebiasaan yang belum lama, mungkin kira-kira baru dua bulan terakhir, tapi gue sangat menikmati ini.

Biasanya, tiap pagi gue seperti merasa “dikejar” dengan berbagai kesibukan. Gue akhirnya mencoba untuk mengerem itu dengan minum teh. Gue panaskan airnya, gue celup tehnya, dan pastinya enggak langsung bisa diminum karena panas. Akhirnya, gue tunggu dulu sampai kira-kira bisa diminum. Sambil menunggu, gue biasanya keluar teras sama kucing gue, main sama mereka. Akhirnya, pagi gue jadi lebih rileks.

Oh ya, dan karena gue terbiasa sama gula atau rasa manis, gue sendiri enggak merasa teh tawar itu nikmat. Tapi kalau kebanyakan mengonsumsi gula juga enggak baik. Makanya, gue ganti dengan madu. Jadilah, teh madu tiap pagi, dan itu rasanya enak banget.

Jadi, ya ... setidaknya gue memulai suatu kebiasaan yang bermanfaat untuk kesehatan gue sendiri. Dan sebetulnya gue merasa ada makna filosofis di balik proses membuat teh tadi #anjay. Serius, soalnya kan dari yang awalnya gue selalu terburu-buru tiap pagi, sekarang gue harus “memaksa” diri gue untuk santai dulu, lebih rileks, dan menikmati teh.

Yang jelas, gue sendiri cukup bangga dengan beberapa kebiasaan baru yang berhasil gue lakukan sepanjang tahun ini. Semoga, di 2018, ada lebih banyak kebiasaan yang bisa gue lakukan secara konsisten. Salah satunya, gue berpikir mau coba membiasakan berinvestasi dengan rutin beli emas 5 gram tiap bulan #anjay (2). Ini juga kebiasaan bagus 'kan? Itu salah satunya. Dan pastinya, harus jadi orang yang lebih peduli sama kesehatan sih, itu penting banget.

17 Desember 2017

Kilas Balik 2017

Di sinilah kita, kembali di bulan terakhir dalam setahun. Kalau ditanya soal kesan selama 2017, gue rasa ini tahun terbaik dan penuh pembelajaran buat gue. Ada banyak pengalaman baru, teman dan koneksi baru, dan bahkan momen-momen yang membanggakan dan juga lumayan bikin “down”.

Setahun ini, gue pribadi merasakan proses pendewasaan yang jauh daripada tahun-tahun sebelumnya. Dan itu semua enggak lepas dari bagaimana gue menanggapi dan menghadapi berbagai masalah. Gue rasa, yang paling signifikan adalah bahwa gue belajar memaafkan, baik kepada orang lain maupun diri sendiri.

Memaafkan

Gue pikir, sebelumnya, gue tipe orang yang mudah memaafkan, tapi ternyata enggak juga, tergantung apa masalahnya. Cuma, tahun ini ada momen ketika gue harus berhadapan dengan orang yang enggak gue sangka hubungannya akan berakhir kurang baik dengan gue. Seiring waktu, gue sadar bahwa itu (salah satunya) karena keegoisan gue pribadi.

Dan, kadang, kita enggak bisa terima kalau diri kita salah karena menganggap kita yang paling tahu apa yang terbaik, kita merasa paling bisa, kita merasa paling lebih daripada orang lain. Sederhananya: sombong.

Terlepas dari apakah orang itu juga berkontribusi terhadap percekcokan yang terjadi, gue sendiri ternyata enggak bersikap lebih baik. Singkat cerita, hubungan gue dengan orang itu memburuk, dan gue kehilangan salah satu sahabat gue.

Buat gue, itu bukan hal yang mudah, apalagi gue bukan tipe orang yang dikelilingi banyak orang, yang temannya selalu ada di mana-mana. Gue menghargai hubungan pertemanan yang sangat personal. Gue bukan orang yang mencari banyak kenalan sana-sini, tapi lebih ke orang yang lebih baik punya sedikit teman, tapi mereka orang-orang yang betul-betul mengenal gue. Dan gue kehilangan satu orang ini.

Tapi, di sisi lain, gue pun “mendapatkan” kembali teman gue yang lain, yang tahun lalu pernah merenggang hubungannya dengan gue karena, ya ... lagi-lagi karena keegoisan gue. Di tahun ini, yang tadinya gue enggak tahu apakah gue bisa balik berteman sama dia, tapi ya ... gue membuang ego gue, gue minta maaf (karena sebelumnya gue pikir itu semua bukan salah gue) dan ternyata semudah itu dan sekarang kita berteman lagi.

Ke Rusia Bawa Nama Indonesia

Ini pastinya yang paling enggak terlupakan. Untuk ketiga kalinya, gue kembali ke Rusia, tapi kali ini gue bawa nama rombongan, bawa nama baik (pemuda) Indonesia, sesuatu yang belum pernah gue lakukan bahkan selama di kampus dulu. Gue rasa, enggak ada yang lebih istimewa tahun ini selain jadi bagian dari 25.000 peserta World Festival of Youth and Students ke-19 di Sochi, Rusia.

Walau begitu, yang paling membanggakan buat gue sebetulnya adalah karena di WFYS ini, gue bisa “membawa” sahabat kesayangan gue, sepupu gue, dan beberapa (mantan) anak-anak yang pernah gue latih di SMA mereka dulu.

Mereka semua tahu banyak soal “urusan” kehidupan gue dengan segala hal yang berhubungan sama Rusia, mereka semua tahu pengalaman gue dua kali ke Rusia, dan cerita-cerita gue selama di sana, dan tahun ini, gue bisa kasih unjuk ke mereka apa yang pernah gue rasakan, apa yang pernah gue lihat di negara itu.

Jadi, gue rasa ini suatu kebanggaan tersendiri karena gue bisa membawa mereka dan ikut berbagi kesenangan dan kesukaan gue terhadap Rusia, khususnya, kepada orang-orang yang selama ini dekat dengan gue.

WFYS ini juga memberikan gue pelajaran yang enggak terhitung. Gue lagi-lagi menemukan “diri” gue seperti di kampus dulu yang sibuknya luar biasa, tapi gue senang dengan apa yang gue lakukan itu. Begitu juga dengan WFYS. Gue merasa seperti kembali ke masa-masa kuliah dulu, berhubungan dengan banyak orang, mulai dari Kedutaan Besar (Rusia dan RI), Pusat Kebudayaan Rusia, hingga kementerian.

Segala persiapan menuju WFYS mulai dari Juni sampai Oktober lalu, sesibuk dan semenyita perhatian apa pun itu, ternyata gue jalankan dengan ringan, dalam arti, gue suka dengan apa yang gue lakukan. Sebetulnya, ini semacam “penyakit” lama. Gue suka berasumsi bahwa gue mampu mengurus semuanya dengan baik, dan justru kalau gue enggak “ikut campur”, semua bisa jadi bermasalah. Ya, ini salah satu sifat yang belum bisa gue kurangi sampai sekarang, tapi gue lumayan berusaha.

Dari Anggun Sampai Putin

Ya! Gue menyebut 2017 sebagai tahun terbaik gue karena sepanjang tahun ini gue bertemu dengan empat orang yang sangat gue kagumi, tapi enggak pernah menyangka akan bertemu di tahun ini, atau setidaknya “secepat” ini.

Tahun ini, gue bertemu Barack Obama, Anggun, Presiden Putin, dan Menlu Rusia Sergey Lavrov. Semua pasti tahu Obama. Buat gue, Obama adalah sosok yang inspiratif. Terlepas dari segala kebijakannya selama jadi presiden AS dulu (Amerika akan tetap jadi Amerika), gue mengagumi dia sebagai sosok pemimpin yang sederhana dan membumi. Gue belajar banyak soal kepemimpinan dari Obama, gue mengikuti karirnya sejak jadi rivalnya Hillary untuk jadi capres dari Partai Demokrat dulu, sampai akhir jabatannya 2016 lalu. Gue bahkan berpikir kalau (misalnya) nasib membawa gue jadi pejabat publik, gue mau seperti Obama.

Gue juga bertemu Anggun. Anggun sosok yang sangat menginspirasi gue sejak SMA dulu. Karena Anggun, gue mau banget bisa bahasa Prancis dan mau tahu banyak soal Prancis. Buat gue, Anggun bukan sekadar penyanyi atau artis yang sukses di kancah dunia internasional, tapi dia benar-benar seorang yang cinta sama Indonesia. Cinta sama Indonesia itu enggak bisa dinilai dari kewarganegaraannya. Gue percaya bahwa setiap orang berhak memiliki kehidupan yang lebih baik. Jika memang seseorang harus pindah kewarganegaraan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik, apakah itu salah? Enggak. Oke, ini semua pasti subjektif, tapi intinya, gue salut banget sama dia.

Terus, gue bertemu Menlu Lavrov. Mungkin enggak banyak yang tahu soal Lavrov, kecuali dia banyak baca soal politik Rusia. Karena gue sedikit-banyak sudah “terjun” dan mendalami perpolitik Rusia, gue cukup banyak tahu soal politis mereka, dan menlu Rusia adalah salah satu sosok yang sangat gue kagumi. Sejak tahu Lavrov, gue berharap bisa bertemu dia suatu hari nanti. Tapi, siapa yang tahu kalau ternyata gue bisa bertemu dia tahun ini? Itu benar-benar enggak disangka sama sekali. Bukan cuma bertemu, tapi bisa bicara langsung sama beliau, dan itu perasaan yang sangat luar biasa.

Dan, seolah-olah 2017 belum selesai kasih banyak kejutan, gue pun berkesempatan bertemu langsung dengan Presiden Putin di Rusia bulan Oktober lalu! Ini bukan cuma bikin merinding, tapi sama sekali enggak menyangka bahwa gue bisa bertemu, dan bahkan bersalaman langsung sama dia.

Intinya, pertemuan dengan Putin dua bulan lalu, gue rasa, masuk dalam daftar lima hal terbaik yang gue alami selama tahun ini. Dan karena itu, gue luar biasa bersyukur atas segala kesempatan yang bisa gue dapatkan sepanjang tahun ini.

Mengajar Bahasa Indonesia dan Jadi Dosen Tamu

Ini dua hal yang juga enggak kalah berkesan yang gue alami tahun ini. Bulan Maret lalu, gue diminta untuk jadi dosen tamu di mata kuliah Etika Jurnalisme. Itu berarti banyak buat gue. Gue sayang banget sama kampus gue, sama jurusan gue, dan gue sendiri sangat peduli dengan masa depan jurnalisme Indonesia. Dan gue sangat bersyukur banget ketika dosen gue dulu mempercayakan gue untuk memberikan materi terkait etika di media online, sesuatu yang jadi perhatian gue selama beberapa tahun terakhir.

Selain itu, di pertengahan tahun, gue juga diminta untuk mengajar Bahasa Indonesia ke orang Rusia yang baru bekerja di Kantor Perwakilan Perdagangan Rusia. Buat gue, ini pun suatu hal yang baru dan sekaligus membuat gue merasa bahwa teman-teman Rusia gue di Jakarta, khususnya, sangat percaya pada kemampuan gue. Pelajaran itu sebetulnya enggak terlalu lama, sekitar tiga bulan. Yang bersangkutan akhirnya menyetop pelajaran karena jadwalnya yang terlalu sibuk.

Tapi, biar bagaimana pun, gue merasa itu salah satu pengalaman yang berharga. Apalagi, gue mengajar Bahasa Indonesia dengan buku rujukan berbahasa Rusia. Jadi, buku pelajaran yang kita gunakan berbahasa Rusia, dan buat gue ini pun jadi tantangan tersendiri karena selain mengajar, pada saat yang sama pun gue ikut belajar.

Mengatasi Hambatan dan Belajar Hal Baru

Kalau dipikir-pikir, satu-satunya hambatan yang hampir dirasakan semua orang adalah ... rasa malas. Ya, ini pun gue rasakan. Malas atau “mager” ini penyakit yang menghambat kita untuk maju. Sepanjang tahun ini gue berusaha untuk mengikis rasa malas gue untuk apa pun. Pastinya ada waktu ketika gue merasa super “mager” dan rasanya kayak mau tidur seharian. Itu yang harus dilawan.

Jangan malas. Kalau mau maju, mau sukses, jangan malas. Apa pun itu. Jangan malas untuk belajar dan terus belajar. Sepanjang tahun ini, gue membiasakan diri untuk membaca sebanyak mungkin informasi, khususnya dari internet. Kalau dipikir-pikir, kita sekarang hidup di zaman yang serba mudah. Kita bisa dengan mudah mengakses informasi dari mana pun. Jadi, sebetulnya, kita semua bisa memilih untuk jadi pintar, atau enggak. Dan jadi pintar itu sebetulnya sangat gampang, semua bisa kita akses dari handphone dan segala gadget yang kita punya.

Jadi, sesibuk apa pun gue, gue berusaha untuk terus cari informasi setiap hari. Info apa pun itu, mulai dari video grafis proses pembedahan sampai soal teori Einstein (dan sekarang gue paham dengan Teori Relativitas!), apa pun. Baca. Bahkan sekalipun kita enggak ada waktu untuk membaca atau mencari informasi yang bisa menambah wawasan kita, coba tonton video. Ada banyak video bagus di YouTube, seperti TED Talks misalnya.

Ini semua membuktikan bahwa menjadi berwawasan atau enggak, itu semua adalah pilihan. Di tengah segala kemudahan akses informasi saat ini, kita harus bisa membangun kebiasaan yang bermanfaat untuk perkembangan diri kita sendiri. Karena itu, gue pikir, sifat malas itu memang salah satu musuh utama manusia. Dan di tahun yang akan datang pun gue masih akan terus berjuang melawan segala kemalasan yang bisa merugikan diri gue sendiri, baik secara disadari maupun enggak.

Resolusi 2018

Sebetulnya gue bukan orang yang selalu membuat resolusi menjelang pergantian tahun. Satu resolusi yang pernah gue buat, yaitu saat menjelang 2015, gue mau berkomitmen untuk setiap bulan mengisi blog gue ini, dan itu gue lakukan — untungnya. Tapi setelah itu, enggak pernah ada satu resolusi tertentu.

Namun, setelah gue pikir-pikir, gue perlu membuat target-target jangka pendek, setidaknya hal-hal yang gue harap bisa gue realisasikan di tahun depan. Jadi, kalau akhir 2018 nanti gue tiba-tiba baca tulisan ini lagi, gue bisa evaluasi apakah target-target gue ini tercapai atau enggak.

Gue mau mulai dari hal-hal yang gue pikir cuku realistis untuk gue lakukan: belajar bahasa Rusia supaya lebih lancar. Itu yang pertama. Selama di Rusia bulan Oktober lalu, gue ternyata sedikit-sedikit bisa jadi “penerjemah”, dan itu rasanya: bangga. Ada suatu kejadian ketika gue terpaksa harus menelepon pihak maskapai lokal di sana, dan mereka sama sekali enggak bisa bahasa Inggris, dan terpaksa gue harus pakai bahasa Rusia, dan ternyata bisa! Jadi, sebetulnya, ini semua masalah gue mau latihan atau enggak. Masalahnya sama: jangan malas. Jadi, gue harap, sampai akhir tahun depan, kemampuan bahasa Rusia gue meningkat.

Gue pun berharap bisa belajar bahasa asing lain. Gue percaya gue sebetulnya punya kemampuan linguistik yang baik, dan mungkin punya potensi untuk jadi poliglot. Sayangnya, lagi-lagi: rasa malas. Gue harap sepanjang 2018 nanti gue bisa mulai konsisten untuk mulai belajar bahasa lain secara otodidak, minimal salah satu dari rumpun bahasa Romantik (Prancis, Spanyol, Italia, atau Portugis).

Selain itu, gue mau membiasakan diri untuk berinvestasi. Gue pikir ini juga suatu hal yang enggak kalah penting. Masalahnya, kalau enggak dimulai dari sekarang, kapan lagi? Investasi apa pun itu, mulai dari reksadana, saham, dan beli emas. Gue sadar bahwa ini semua penting banget untuk masa depan, dan karena itu gue mau mulai berinvestasi.

Pada dasarnya itu semua: belajar dan berinvestasi. Sebetulnya masih ada banyak yang gue pikir mau gue lakukan di tahun 2018, tapi gue pikir dua hal ini adalah hal yang pasti bisa gue lakukan dan sangat bisa gue ukur sukses atau enggaknya di akhir tahun depan.

Keputusan Akhir Tahun

Menjelang akhir 2017, gue mengambil suatu keputusan penting yang sebetulnya enggak pernah gue sangka akan gue lakukan tahun ini. Selain karena ini enggak bisa dibilang “main-main” juga, ini semua melibatkan komitmen dan kemampuan ekonomi selama beberapa tahun mendatang.

Gue cuma berharap bahwa keputusan ini tepat, apa yang gue pilih itu tepat, dan semuanya berjalan lancar hingga tahun-tahun berikutnya. Sejujurnya, ini antara bersemangat dan deg-degan. Bersemangat karena ini semua hasil kerja keras selama ini, tapi deg-degan karena belum pernah membuat keputusan sebesar ini sebelumnya.

Anyway, terima kasih untuk semua yang sudah mewarnai hidup gue sepanjang tahun ini. Terima kasih untuk segala tawa dan canda, segala pembelajaran, dan segala obrolan sambil makan-makan di akhir pekan atau sambil menunggu redanya kemacetan Jakarta.

Terima kasih untuk segala inspirasi, ide, dan segala nasihat yang berharga. Terima kasih untuk persahabatan dan kejutan-kejutan ulang tahun di bulan Juli.

Semoga tahun yang akan datang dapat membawa lebih banyak warna dan kebahagiaan untuk kita semua. Dan jangan lupa, buat target dan deadline. Karena tanpa deadline, impian hanya akan sekadar impian. Tapi, apa pun itu, semoga semuanya lancar. Akhir kata, gue siap menyambut 2018.