17 Desember 2017

Kilas Balik 2017

Di sinilah kita, kembali di bulan terakhir dalam setahun. Kalau ditanya soal kesan selama 2017, gue rasa ini tahun terbaik dan penuh pembelajaran buat gue. Ada banyak pengalaman baru, teman dan koneksi baru, dan bahkan momen-momen yang membanggakan dan juga lumayan bikin “down”.

Setahun ini, gue pribadi merasakan proses pendewasaan yang jauh daripada tahun-tahun sebelumnya. Dan itu semua enggak lepas dari bagaimana gue menanggapi dan menghadapi berbagai masalah. Gue rasa, yang paling signifikan adalah bahwa gue belajar memaafkan, baik kepada orang lain maupun diri sendiri.

Memaafkan

Gue pikir, sebelumnya, gue tipe orang yang mudah memaafkan, tapi ternyata enggak juga, tergantung apa masalahnya. Cuma, tahun ini ada momen ketika gue harus berhadapan dengan orang yang enggak gue sangka hubungannya akan berakhir kurang baik dengan gue. Seiring waktu, gue sadar bahwa itu (salah satunya) karena keegoisan gue pribadi.

Dan, kadang, kita enggak bisa terima kalau diri kita salah karena menganggap kita yang paling tahu apa yang terbaik, kita merasa paling bisa, kita merasa paling lebih daripada orang lain. Sederhananya: sombong.

Terlepas dari apakah orang itu juga berkontribusi terhadap percekcokan yang terjadi, gue sendiri ternyata enggak bersikap lebih baik. Singkat cerita, hubungan gue dengan orang itu memburuk, dan gue kehilangan salah satu sahabat gue.

Buat gue, itu bukan hal yang mudah, apalagi gue bukan tipe orang yang dikelilingi banyak orang, yang temannya selalu ada di mana-mana. Gue menghargai hubungan pertemanan yang sangat personal. Gue bukan orang yang mencari banyak kenalan sana-sini, tapi lebih ke orang yang lebih baik punya sedikit teman, tapi mereka orang-orang yang betul-betul mengenal gue. Dan gue kehilangan satu orang ini.

Tapi, di sisi lain, gue pun “mendapatkan” kembali teman gue yang lain, yang tahun lalu pernah merenggang hubungannya dengan gue karena, ya ... lagi-lagi karena keegoisan gue. Di tahun ini, yang tadinya gue enggak tahu apakah gue bisa balik berteman sama dia, tapi ya ... gue membuang ego gue, gue minta maaf (karena sebelumnya gue pikir itu semua bukan salah gue) dan ternyata semudah itu dan sekarang kita berteman lagi.

Ke Rusia Bawa Nama Indonesia

Ini pastinya yang paling enggak terlupakan. Untuk ketiga kalinya, gue kembali ke Rusia, tapi kali ini gue bawa nama rombongan, bawa nama baik (pemuda) Indonesia, sesuatu yang belum pernah gue lakukan bahkan selama di kampus dulu. Gue rasa, enggak ada yang lebih istimewa tahun ini selain jadi bagian dari 25.000 peserta World Festival of Youth and Students ke-19 di Sochi, Rusia.

Walau begitu, yang paling membanggakan buat gue sebetulnya adalah karena di WFYS ini, gue bisa “membawa” sahabat kesayangan gue, sepupu gue, dan beberapa (mantan) anak-anak yang pernah gue latih di SMA mereka dulu.

Mereka semua tahu banyak soal “urusan” kehidupan gue dengan segala hal yang berhubungan sama Rusia, mereka semua tahu pengalaman gue dua kali ke Rusia, dan cerita-cerita gue selama di sana, dan tahun ini, gue bisa kasih unjuk ke mereka apa yang pernah gue rasakan, apa yang pernah gue lihat di negara itu.

Jadi, gue rasa ini suatu kebanggaan tersendiri karena gue bisa membawa mereka dan ikut berbagi kesenangan dan kesukaan gue terhadap Rusia, khususnya, kepada orang-orang yang selama ini dekat dengan gue.

WFYS ini juga memberikan gue pelajaran yang enggak terhitung. Gue lagi-lagi menemukan “diri” gue seperti di kampus dulu yang sibuknya luar biasa, tapi gue senang dengan apa yang gue lakukan itu. Begitu juga dengan WFYS. Gue merasa seperti kembali ke masa-masa kuliah dulu, berhubungan dengan banyak orang, mulai dari Kedutaan Besar (Rusia dan RI), Pusat Kebudayaan Rusia, hingga kementerian.

Segala persiapan menuju WFYS mulai dari Juni sampai Oktober lalu, sesibuk dan semenyita perhatian apa pun itu, ternyata gue jalankan dengan ringan, dalam arti, gue suka dengan apa yang gue lakukan. Sebetulnya, ini semacam “penyakit” lama. Gue suka berasumsi bahwa gue mampu mengurus semuanya dengan baik, dan justru kalau gue enggak “ikut campur”, semua bisa jadi bermasalah. Ya, ini salah satu sifat yang belum bisa gue kurangi sampai sekarang, tapi gue lumayan berusaha.

Dari Anggun Sampai Putin

Ya! Gue menyebut 2017 sebagai tahun terbaik gue karena sepanjang tahun ini gue bertemu dengan empat orang yang sangat gue kagumi, tapi enggak pernah menyangka akan bertemu di tahun ini, atau setidaknya “secepat” ini.

Tahun ini, gue bertemu Barack Obama, Anggun, Presiden Putin, dan Menlu Rusia Sergey Lavrov. Semua pasti tahu Obama. Buat gue, Obama adalah sosok yang inspiratif. Terlepas dari segala kebijakannya selama jadi presiden AS dulu (Amerika akan tetap jadi Amerika), gue mengagumi dia sebagai sosok pemimpin yang sederhana dan membumi. Gue belajar banyak soal kepemimpinan dari Obama, gue mengikuti karirnya sejak jadi rivalnya Hillary untuk jadi capres dari Partai Demokrat dulu, sampai akhir jabatannya 2016 lalu. Gue bahkan berpikir kalau (misalnya) nasib membawa gue jadi pejabat publik, gue mau seperti Obama.

Gue juga bertemu Anggun. Anggun sosok yang sangat menginspirasi gue sejak SMA dulu. Karena Anggun, gue mau banget bisa bahasa Prancis dan mau tahu banyak soal Prancis. Buat gue, Anggun bukan sekadar penyanyi atau artis yang sukses di kancah dunia internasional, tapi dia benar-benar seorang yang cinta sama Indonesia. Cinta sama Indonesia itu enggak bisa dinilai dari kewarganegaraannya. Gue percaya bahwa setiap orang berhak memiliki kehidupan yang lebih baik. Jika memang seseorang harus pindah kewarganegaraan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik, apakah itu salah? Enggak. Oke, ini semua pasti subjektif, tapi intinya, gue salut banget sama dia.

Terus, gue bertemu Menlu Lavrov. Mungkin enggak banyak yang tahu soal Lavrov, kecuali dia banyak baca soal politik Rusia. Karena gue sedikit-banyak sudah “terjun” dan mendalami perpolitik Rusia, gue cukup banyak tahu soal politis mereka, dan menlu Rusia adalah salah satu sosok yang sangat gue kagumi. Sejak tahu Lavrov, gue berharap bisa bertemu dia suatu hari nanti. Tapi, siapa yang tahu kalau ternyata gue bisa bertemu dia tahun ini? Itu benar-benar enggak disangka sama sekali. Bukan cuma bertemu, tapi bisa bicara langsung sama beliau, dan itu perasaan yang sangat luar biasa.

Dan, seolah-olah 2017 belum selesai kasih banyak kejutan, gue pun berkesempatan bertemu langsung dengan Presiden Putin di Rusia bulan Oktober lalu! Ini bukan cuma bikin merinding, tapi sama sekali enggak menyangka bahwa gue bisa bertemu, dan bahkan bersalaman langsung sama dia.

Intinya, pertemuan dengan Putin dua bulan lalu, gue rasa, masuk dalam daftar lima hal terbaik yang gue alami selama tahun ini. Dan karena itu, gue luar biasa bersyukur atas segala kesempatan yang bisa gue dapatkan sepanjang tahun ini.

Mengajar Bahasa Indonesia dan Jadi Dosen Tamu

Ini dua hal yang juga enggak kalah berkesan yang gue alami tahun ini. Bulan Maret lalu, gue diminta untuk jadi dosen tamu di mata kuliah Etika Jurnalisme. Itu berarti banyak buat gue. Gue sayang banget sama kampus gue, sama jurusan gue, dan gue sendiri sangat peduli dengan masa depan jurnalisme Indonesia. Dan gue sangat bersyukur banget ketika dosen gue dulu mempercayakan gue untuk memberikan materi terkait etika di media online, sesuatu yang jadi perhatian gue selama beberapa tahun terakhir.

Selain itu, di pertengahan tahun, gue juga diminta untuk mengajar Bahasa Indonesia ke orang Rusia yang baru bekerja di Kantor Perwakilan Perdagangan Rusia. Buat gue, ini pun suatu hal yang baru dan sekaligus membuat gue merasa bahwa teman-teman Rusia gue di Jakarta, khususnya, sangat percaya pada kemampuan gue. Pelajaran itu sebetulnya enggak terlalu lama, sekitar tiga bulan. Yang bersangkutan akhirnya menyetop pelajaran karena jadwalnya yang terlalu sibuk.

Tapi, biar bagaimana pun, gue merasa itu salah satu pengalaman yang berharga. Apalagi, gue mengajar Bahasa Indonesia dengan buku rujukan berbahasa Rusia. Jadi, buku pelajaran yang kita gunakan berbahasa Rusia, dan buat gue ini pun jadi tantangan tersendiri karena selain mengajar, pada saat yang sama pun gue ikut belajar.

Mengatasi Hambatan dan Belajar Hal Baru

Kalau dipikir-pikir, satu-satunya hambatan yang hampir dirasakan semua orang adalah ... rasa malas. Ya, ini pun gue rasakan. Malas atau “mager” ini penyakit yang menghambat kita untuk maju. Sepanjang tahun ini gue berusaha untuk mengikis rasa malas gue untuk apa pun. Pastinya ada waktu ketika gue merasa super “mager” dan rasanya kayak mau tidur seharian. Itu yang harus dilawan.

Jangan malas. Kalau mau maju, mau sukses, jangan malas. Apa pun itu. Jangan malas untuk belajar dan terus belajar. Sepanjang tahun ini, gue membiasakan diri untuk membaca sebanyak mungkin informasi, khususnya dari internet. Kalau dipikir-pikir, kita sekarang hidup di zaman yang serba mudah. Kita bisa dengan mudah mengakses informasi dari mana pun. Jadi, sebetulnya, kita semua bisa memilih untuk jadi pintar, atau enggak. Dan jadi pintar itu sebetulnya sangat gampang, semua bisa kita akses dari handphone dan segala gadget yang kita punya.

Jadi, sesibuk apa pun gue, gue berusaha untuk terus cari informasi setiap hari. Info apa pun itu, mulai dari video grafis proses pembedahan sampai soal teori Einstein (dan sekarang gue paham dengan Teori Relativitas!), apa pun. Baca. Bahkan sekalipun kita enggak ada waktu untuk membaca atau mencari informasi yang bisa menambah wawasan kita, coba tonton video. Ada banyak video bagus di YouTube, seperti TED Talks misalnya.

Ini semua membuktikan bahwa menjadi berwawasan atau enggak, itu semua adalah pilihan. Di tengah segala kemudahan akses informasi saat ini, kita harus bisa membangun kebiasaan yang bermanfaat untuk perkembangan diri kita sendiri. Karena itu, gue pikir, sifat malas itu memang salah satu musuh utama manusia. Dan di tahun yang akan datang pun gue masih akan terus berjuang melawan segala kemalasan yang bisa merugikan diri gue sendiri, baik secara disadari maupun enggak.

Resolusi 2018

Sebetulnya gue bukan orang yang selalu membuat resolusi menjelang pergantian tahun. Satu resolusi yang pernah gue buat, yaitu saat menjelang 2015, gue mau berkomitmen untuk setiap bulan mengisi blog gue ini, dan itu gue lakukan — untungnya. Tapi setelah itu, enggak pernah ada satu resolusi tertentu.

Namun, setelah gue pikir-pikir, gue perlu membuat target-target jangka pendek, setidaknya hal-hal yang gue harap bisa gue realisasikan di tahun depan. Jadi, kalau akhir 2018 nanti gue tiba-tiba baca tulisan ini lagi, gue bisa evaluasi apakah target-target gue ini tercapai atau enggak.

Gue mau mulai dari hal-hal yang gue pikir cuku realistis untuk gue lakukan: belajar bahasa Rusia supaya lebih lancar. Itu yang pertama. Selama di Rusia bulan Oktober lalu, gue ternyata sedikit-sedikit bisa jadi “penerjemah”, dan itu rasanya: bangga. Ada suatu kejadian ketika gue terpaksa harus menelepon pihak maskapai lokal di sana, dan mereka sama sekali enggak bisa bahasa Inggris, dan terpaksa gue harus pakai bahasa Rusia, dan ternyata bisa! Jadi, sebetulnya, ini semua masalah gue mau latihan atau enggak. Masalahnya sama: jangan malas. Jadi, gue harap, sampai akhir tahun depan, kemampuan bahasa Rusia gue meningkat.

Gue pun berharap bisa belajar bahasa asing lain. Gue percaya gue sebetulnya punya kemampuan linguistik yang baik, dan mungkin punya potensi untuk jadi poliglot. Sayangnya, lagi-lagi: rasa malas. Gue harap sepanjang 2018 nanti gue bisa mulai konsisten untuk mulai belajar bahasa lain secara otodidak, minimal salah satu dari rumpun bahasa Romantik (Prancis, Spanyol, Italia, atau Portugis).

Selain itu, gue mau membiasakan diri untuk berinvestasi. Gue pikir ini juga suatu hal yang enggak kalah penting. Masalahnya, kalau enggak dimulai dari sekarang, kapan lagi? Investasi apa pun itu, mulai dari reksadana, saham, dan beli emas. Gue sadar bahwa ini semua penting banget untuk masa depan, dan karena itu gue mau mulai berinvestasi.

Pada dasarnya itu semua: belajar dan berinvestasi. Sebetulnya masih ada banyak yang gue pikir mau gue lakukan di tahun 2018, tapi gue pikir dua hal ini adalah hal yang pasti bisa gue lakukan dan sangat bisa gue ukur sukses atau enggaknya di akhir tahun depan.

Keputusan Akhir Tahun

Menjelang akhir 2017, gue mengambil suatu keputusan penting yang sebetulnya enggak pernah gue sangka akan gue lakukan tahun ini. Selain karena ini enggak bisa dibilang “main-main” juga, ini semua melibatkan komitmen dan kemampuan ekonomi selama beberapa tahun mendatang.

Gue cuma berharap bahwa keputusan ini tepat, apa yang gue pilih itu tepat, dan semuanya berjalan lancar hingga tahun-tahun berikutnya. Sejujurnya, ini antara bersemangat dan deg-degan. Bersemangat karena ini semua hasil kerja keras selama ini, tapi deg-degan karena belum pernah membuat keputusan sebesar ini sebelumnya.

Anyway, terima kasih untuk semua yang sudah mewarnai hidup gue sepanjang tahun ini. Terima kasih untuk segala tawa dan canda, segala pembelajaran, dan segala obrolan sambil makan-makan di akhir pekan atau sambil menunggu redanya kemacetan Jakarta.

Terima kasih untuk segala inspirasi, ide, dan segala nasihat yang berharga. Terima kasih untuk persahabatan dan kejutan-kejutan ulang tahun di bulan Juli.

Semoga tahun yang akan datang dapat membawa lebih banyak warna dan kebahagiaan untuk kita semua. Dan jangan lupa, buat target dan deadline. Karena tanpa deadline, impian hanya akan sekadar impian. Tapi, apa pun itu, semoga semuanya lancar. Akhir kata, gue siap menyambut 2018.

2 komentar :

Ass.wr.wt.saya IBU NUR INTAN  tki singapore sangat berterima kasih kepada AKI SOLEH, berkat bantuan angka jitu yang di berikan AKI SOLEH, saya bisah menang togel 4D yaitu (2814) dan alhamdulillah saya menang (359,juta)sekarang saya sudah bisah melunasi hutang-hutang saya dan menyekolahkan anak-anak saya. sekarang saya sudah bisah hidup tenang berkat bantuan AKI SOLEH. bagi anda yang termasuk dalam kategori di bawah ini;
1.di lilit hutang
2.selalu kalah dalam bermain togel
3.barang-barang berharga sudah habis buat judi togel
4.hidup sehari-hari anda serba kekurangan
5.anda sudah kemana-mana tapi belum dapat solusi yang tepat
6.pesugihan tuyul
7.pesugihan bank gaib
8.pesugihan uang balik
9.pesugihan dana gaib, dan dll
dan anda ingin mengubah nasib melalui jalan togel seperti saya hub AKI SOLEH di no; 082-313-336-747.
atau anda bisah kunjungi blog AKI "K L I K  D I S I N I"

Atau Chat/Tlpn di WhatsApp (WA) 
No WA Aki : 082313336747

"A T A U  K L I K  S I T U S  K A M I"

UNTUK JENIS PUTARAN; SGP, HK, MACAU, MALAYSIA, SYDNEY, TOTO MAGNUM, TAIPE, THAILAND, LAOS, CHINA, KOREA, KAMBODIA, KUDA LARI, ARAB SAUDI,

AKI SOLEH dengan senang hati membantu anda memperbaiki nasib anda melalui jalan togel karna angka gaib/jitu yang di berikan AKI SOLEH tidak perlu di ragukan lagi.sudah terbukti 100% akan tembus. karna saya sudah membuktikan sendiri.buat anda yang masih ragu, silahkan anda membuktikan nya sendiri.
SALAM KOMPAK SELALU.DAN SELAMAT BUAT YANG JUPE HARI INI














..(`’•.¸(` ‘•. ¸* ¸.•’´)¸.•’´).. 
«082-313-336-747» 
..(¸. •’´(¸.•’´ * `’•.¸)`’•.¸ )..

Saya ingin menyampaikan kepada seluruh TKI dan TKW yang bekerja di negeri orang saya atas nama IBU MARINA saya seorang TKI DI MALAYSIA pengen pulang ke indo tapi ngak ada ongkos sempat saya putus asah apalagi dengan keadaan susah gaji suami itupun buat makan sedangkan hutang banyak kebetulan suami saya buka-buka internet mendapatkan nomor KYAI ANOM SUROTHO katanya bisa bantu orang melunasi hutang melalui jalan TOGEL dengan keadaan susah jadi saya coba hubungi KYAI ANOM SUROTHO dan saya minta angka bocoran TOTO MALAYSIA angka yang di berikan TOTO 4D (1229) ternyata betul-betul tembus 100% bagi saudarai-saudara di indo mau di luar negeri apabila punya masalah hutang sudah lama belum lunas jangan putus asah beliau bisa membantu meringankan masalah anda hubungi KYAI ANOM SUROTHO di nomor (_085_298_569-393_) silahkan buktikan sendiri..
"K L I K DI S I NI"

Posting Komentar

Silakan tulis opini atau komentarmu.