19 Desember 2017

Lima Kebiasaan Baru Sepanjang 2017

Sepanjang tahun ini, gue mencoba memulai dan mengembangkan beberapa kebiasaan. Gue pikir, ketika kita mau mencapai sesuatu — katakanlah sesederhana punya badan yang sehat, kita tentu harus membangun kebiasaan hidup sehat. Artinya apa yang kita mau itu sebetulnya enggak bisa kita dapatkan kalau kita enggak melakukan usaha tertentu secara reguler (yang itu kemudian jadi sebuah kebiasaan). Jadi, gue pikir, ada banyak hal positif yang bisa gue kembangan jadi suatu kebiasaan, dan itu pasti akan bermanfaat buat gue entah saat ini atau di masa depan.

1. Berhenti berkomentar di media sosial

Siapa pun yang mengenal gue sejak lama tahu bahwa gue termasuk “pejuang” media sosial. Dalam arti, partisipasi gue dalam mengemukakan pendapat dan berdebat di media sosial lumayan tinggi. Mulai dari soal politik (terutama politik), sampai isu-isu sosial, agama, dan lain-lain, gue pasti enggak ragu-ragu untuk “bersuara”. Jelas, enggak ada yang salah. Gue pikir, apa yang gue ungkapkan pun tetap diperkuat dengan berbagai fakta. Namun intinya, gue sangat menikmati “keributan” di media sosial.

Itu berubah setidaknya sejak awal tahun ini. Gue merasa itu semua enggak ada gunanya. Gue pikir biar bagaimana pun setiap orang punya opininya masing-masing, dan apa sih sebetulnya yang gue harapkan dengan berusaha meyakinkan orang lain bahwa gue benar? Pengakuan bahwa gue lebih pintar, mungkin?

Padahal, segala keributan itu, pasti memengaruhi kepribadian kita. Segala hal yang kita temukan di media sosial saat ini, segala berita-berita aneh yang enggak jelas asalnya atau sembarang kutip narasumber, kalau kita komentari semua itu pada dasarnya cuma membuang-buang waktu dan tenaga kita. Untuk apa? Kenapa enggak kita manfaatkan waktu “berkoar-koar” itu untuk sesuatu yang lebih bermanfaat: fokus pada kerjaan masing-masing, contohnya.

Jadi, gue pikir, enggak ada manfaatnya lagi berkomentar di media sosial. Sejak awal tahun ini, gue menahan diri untuk enggak berkomentar, terutama soal politik, perang, dan apa pun itu. Ya, kadang gue memang mengomentari soal pemberitaan media, tapi itu karena, pertama, gue anggap itu parah banget sampai gue harus berkomentar, dan kedua, gue tahu betul apa yang gue komentari karena gue merasa paham dan punya ilmunya.

Gue, tentu, tetap jadi social media junkie. Enggak ada jam tanpa cek media sosial karena biar bagaimana pun ini berhubungan dengan pekerjaan gue. Namun yang jelas, gue berhenti “membuat keributan”. Kalau pun ada orang-orang yang tanya pendapat gue tentang suatu isu, gue tentu enggak pernah keberatan untuk berbagi pandangan, tapi itu semua hanya gue kemukakan secara personal pada yang bersangkutan.

Sementara itu, dinding dan linimasa media sosial gue sepanjang tahun ini lebih banyak gue isi dengan sesuatu yang personal tentang diri gue. Gue berbagi foto-foto gue dengan orang-orang yang gue temui, misalnya. Dan ada cerita di balik itu semua, yang mungkin, bisa menginspirasi orang lain. Jadi, daripada ikut “meributkan” hal-hal yang sebetulnya enggak ada gunanya, kenapa enggak berbagi hal-hal yang membahagiakan, hal-hal yang menunjukkan prestasi, atau kisah-kisah yang menginspirasi.

Gue, sejujurnya, lebih suka orang “melihat” gue sebagai orang yang sering foto sama cewek Rusia, misalnya, daripada sebagai orang yang selalu mengkritik keadaan. Serius. Karena kalau orang melihat gue sering berfoto sama cewek Rusia, artinya mereka memperhatikan sesuatu dari gue, mereka melihat dan mungkin penasaran apa sih sebetulnya yang gue kerjakan, atau kenapa sih gue bisa punya banyak teman dari kalangan ekspatriat, misalnya.

Belum lagi, segala hal yang gue bagikan, entah itu di Facebook, Twitter, atau Instagram, pasti gue sertakan dengan cerita di balik itu semua. Menurut gue, itu jauh lebih baik daripada menjadi orang yang dicitrakan sebagai seseorang yang (sok) kritis. Kita kan enggak pernah tahu apa pendapat orang banyak soal kita? Siapa yang tahu bahwa orang-orang di media sosial itu mungkin ada yang enggak suka sama kita? Gue pastinya enggak peduli soal itu, tapi bukankah lebih baik kalau kita bisa membagikan hal-hal yang lebih positif di media sosial?

2. Memanfaatkan media sosial untuk belajar

Ini masih lanjutan dari kebiasaan pertama. Karena gue berusaha membuang kebiasaan berkomentar di media sosial, gue berusaha membangun kebiasaan baru, yaitu memanfaatkan media sosial untuk belajar dan menambah wawasan.

Sampai sekarang, gue masih menganggap Facebook adalah media sosial terbaik yang kita punya saat ini. Dari Facebook ini, gue bisa mendapatkan banyak banget informasi tentang apa pun. Jadi, gue membiasakan diri untuk cari menyempatkan diri setiap harinya, khususnya di setiap waktu luang, untuk cari informasi apa pun di Facebook. Menurut gue, itu platform yang paling nyaman. Tiap orang mungkin beda-beda.

Sementara, untuk berita terkini, gue menggunakan Twitter. Sampai sekarang gue masih setia menggunakan Twitter, dan dari platform itu gue biasanya mendapatkan informasi paling update dan paling cepat tentang peristiwa apa pun.

Namun, intinya adalah, selama gue berkutat dengan laptop, gue selalu menyelingi pekerjaan gue dengan browsing di Facebook. Ada banyak page bagus yang bisa diikuti. Ada juga page yang berisi video-video motivasi yang inspiratif. Jadi, media sosial (yang canggih itu) bisa kita gunakan untuk menambah wawasan kita. Gue bahkan bisa tahu soal konsep kecepatan cahaya dan Teori Relativitas Einstein itu karena video-video dari media sosial.

Belum lagi, gue gabung dengan komunitas-komunitas tertentu di Facebook. Sebagian besar gue memang cuma jadi silent reader, tapi bahwa gue mendapatkan banyak informasi dari mereka, 100 persen iya. Karena itu, gue sendiri sangat merekomendasikan kebiasaan ini kepada siapa pun, supaya setiap hari ada sesuatu yang baru yang bisa kita pelajari. Supaya setiap hari, ada ilmu baru yang bisa kita dapat dan mungkin bisa kita bagi dan bermanfaat buat orang lain.

3. Berbagi informasi

Jangan pelit. Intinya itu. Jadi, setiap informasi apa pun yang gue dapat, yang gue pikir menarik dan relevan, pasti akan gue bagi ke banyak orang. Pada dasarnya, gue percaya dengan hukum timbal balik. Jadi, kalau gue berharap orang lain “bermurah hati” membagikan informasi ke gue, berarti gue dulu yang harus membangun kebiasaan untuk selalu berbagai informasi kepada orang lain.

Mungkin, kalian yang membaca ini termasuk orang-orang yang sering mendapat kiriman tautan-tautan berita atau informasi yang gue bagi di WhatsApp atau LINE. Dan memang, enggak semua orang yang dibagikan informasi itu memberi respons, dan itu sama sekali bukan masalah. Karena ya ... tentu mungkin ada yang merasa informasi itu kurang penting (sekalipun gue pikir itu berguna), tapi yang paling paham tentang kebutuhan informasi si orang itu ya ... orang itu sendiri.

Yang jelas, gue membiasakan diri untuk berbagi. Dan berbagi informasi dan wawasan adalah salah satu hal paling mudah yang bisa kita lakukan kepada orang lain. Menurut gue, itu pun suatu sifat yang baik, terlepas dari orang itu membutuhkan atau enggak. Biar bagaimana pun, gue membangun citra sebagai orang yang selalu berbagi informasi.

Yang dibagi bisa bermacam-macam, mulai dari artikel-artikel yang membahas isu tertentu, sampai peluang beasiswa atau pekerjaan. Gue pikir, setidaknya, orang-orang di dekat gue akan “tertular” dengan kebiasaan gue ini, entah mereka sadari atau enggak — ada beberapa orang yang gue perhatikan juga mulai melakukan kebiasaan yang sama.

4. Belajar bahasa Rusia

Sejak tahun lalu, gue udah berhenti les di Pusat Kebudayaan Rusia. Ya, selain karena kesibukan gue yang semakin padat, guru yang mengajar gue pun mengundurkan diri. Akhirnya, gue harus belajar sendiri (kalau betul-betul mau bisa).

Tapi, gue tetap mau bisa lancar bicara bahasa Rusia. Jadi, walau gue lumayan jarang buka buku pelajaran bahasa Rusia, gue membangun kebiasaan untuk berpikir dalam bahasa Rusia.

Masalahnya, belajar sendiri itu penuh tantangan, penuh godaan (malas), dan penuh berbagai alasan yang membuat kita mau menunda dan menunda. Sementara, walau gue bekerja di perusahaan Rusia, dengan orang Rusia, dan punya banyak teman Rusia (di Jakarta), sebagian besar komunikasi gue dengan mereka menggunakan bahasa Indonesia (karena mereka bisa — tambah lagi satu alasan untuk enggak mempraktikkan bahasa Rusia).

Kita semua, baik secara sadar maupun enggak, pasti suka bicara sendiri dalam pikiran atau hati kita. Yang gue lakukan, gue mencoba mengubah semua yang gue pikirkan itu ke dalam bahasa Rusia. Kalau misalnya gue lagi dalam perjalanan atau di mal, misalnya, gue melatih kosakata gue dengan menyebutkan benda-benda di sekeliling gue dalam bahasa Rusia (di dalam hati). Pastinya, enggak semua benda gue tahu apa bahasa Rusianya, dan di situlah gue bisa cek kamus (di aplikasi), dan sebagainya.

Intinya, gue mencoba untuk menggunakan bahasa Rusia dalam sehari-hari. Katakanlah, gue mau beli bakso. Maka di otak gue, gue akan mengubah kalimat keinginan gue itu ke dalam bahasa Rusia, dan dari situ biasanya akan berkembang, sepeti ... kapan penjualnya datang, atau harganya berapa, atau ada uang di dompet atau enggak. Betul-betul sesuatu yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari. Karena kalau enggak begitu, dijamin pasti lupa. Apa yang sudah dipelajari selama hampir 2,5 tahun, pasti akan menguap begitu saja karena kita sendiri yang memang enggak punya kemauan untuk mengasah kemampuan kita.

5. Minum teh

Ya, serius, minum teh. Ini kan kebiasaan yang bagus (kayak orang Rusia)? Teh dikatakan dapat meningkatkan performa dan daya tahan tubuh kita. Belum lagi, minum teh setiap hari dapat membantu mengurangi risiko serangan jantung. Bahkan, minum teh hitam atau teh herbal bisa menjadi pereda gangguan pencernaan secara alami. Bagus 'kan?

Sebetulnya ini kebiasaan yang belum lama, mungkin kira-kira baru dua bulan terakhir, tapi gue sangat menikmati ini.

Biasanya, tiap pagi gue seperti merasa “dikejar” dengan berbagai kesibukan. Gue akhirnya mencoba untuk mengerem itu dengan minum teh. Gue panaskan airnya, gue celup tehnya, dan pastinya enggak langsung bisa diminum karena panas. Akhirnya, gue tunggu dulu sampai kira-kira bisa diminum. Sambil menunggu, gue biasanya keluar teras sama kucing gue, main sama mereka. Akhirnya, pagi gue jadi lebih rileks.

Oh ya, dan karena gue terbiasa sama gula atau rasa manis, gue sendiri enggak merasa teh tawar itu nikmat. Tapi kalau kebanyakan mengonsumsi gula juga enggak baik. Makanya, gue ganti dengan madu. Jadilah, teh madu tiap pagi, dan itu rasanya enak banget.

Jadi, ya ... setidaknya gue memulai suatu kebiasaan yang bermanfaat untuk kesehatan gue sendiri. Dan sebetulnya gue merasa ada makna filosofis di balik proses membuat teh tadi #anjay. Serius, soalnya kan dari yang awalnya gue selalu terburu-buru tiap pagi, sekarang gue harus “memaksa” diri gue untuk santai dulu, lebih rileks, dan menikmati teh.

Yang jelas, gue sendiri cukup bangga dengan beberapa kebiasaan baru yang berhasil gue lakukan sepanjang tahun ini. Semoga, di 2018, ada lebih banyak kebiasaan yang bisa gue lakukan secara konsisten. Salah satunya, gue berpikir mau coba membiasakan berinvestasi dengan rutin beli emas 5 gram tiap bulan #anjay (2). Ini juga kebiasaan bagus 'kan? Itu salah satunya. Dan pastinya, harus jadi orang yang lebih peduli sama kesehatan sih, itu penting banget.

1 komentar :

Thanks a lot for sharing this informative blog. I am new to this field, and thus i am hoping for the similar post so that i can enhance my knowledge. Thank you.
https://apkdownloads.net/adbfire/

Posting Komentar

Silakan tulis opini atau komentarmu.